Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juni 2013

10 Superhero DC yang Paling Terkenal

Marvel dan DC adalah Duo Raksasa yang merajai dunia superhero komik. Sama halnya dengan Marvel, DC terus berusaha membesarkan namanya di dunia itu dengan merilis banyak suphero atau pahlawan super yang terus mendunia seperti Superman, Batman dan sebagainya. Jadi, siapa sajakah 10 karakter suphero DC yang paling dikenal dunia? Berikut 10 hero DC yang paling popular.
10. HAWKMAN
Hawkman


Merupakan reinkarnasi dari Pangeran Mesir bernama Khufu, ia menemukan bahwa "Nth Metal" dapat membatalkan hukum grativasi, yang memperbolehkannya untuk terbang dan juga kekuatan dari bajunya. Karena ia merupakan arkeologi dan sejarawan, ia menggunakan senjata dari museumtempat ia bekerja untuk menegakkan kebenaran.
Mungkin popularitasnya sebagai superhero DC disebabkan karena ia merupakan anggota dari Justice Leaguge. Selain hal itu, ia juga dikenal sebagai superhero yang ganas karena selalu membawa senjata yang besar.
9. AQUAMAN
aquaman
Arthur Curry, itulah nama asli Aquaman. Dikisahkan bahwa ia lahir dari seorang penjaga mercusuar dengan seorang wanita yang merupakan keturunan kerajaan Atlantis. Dari darah keturunan inilah, Aquaman menjadi raja dari 7 lautan dan penguasa Atlantis, ia juga merupakan salah satu pendiri Justice League. Ia juga berteman dekat dengan Superman.
Sayangnya, karena nama dan kekuatannya, ia sering jadi bahan candaan atau lawakan orang yang mendengar namanya. Akan tetapi, hal ini berubah seiring kemunculannya di layar televisi dan komik-komik DC. Sebagai contoh, di Smallville ia dimunculkan sebagai seseorang yang membela kebenaran terkait atas pemeliharaan laut. Di era modern ini ia dikisahkan sebagai Raja Atlantis yang berusaha menegakkan kebenaran.
8. CATWOMAN
catwoman
Dengan kostum dan kekuatan kucing seperti namanya ini, ia aslinya adalah wanita dengan nama Selina Kyle. Ia digambarkan oleh DC sebagai superhero yang memiliki hubungan romantis dekat Batman. Catwoman juga digambarkan sebagai seorang pencuri yang menjadi musuh Batman, tetapi seiring dengan perkembangan kisah, DC merubah hal ini dan menggambarkan Catwoman sebagai sebuah figur heroik yang berusaha melindungi Bagian Timur Kota Gotham dan membantu Batman.
Mungkin karena hubungannya dengan Batman dan perubahannya dari supervillain menjadi superhero, serta namanya yang melambangkan kekuatannya ini, Catwoman masuk ke dalam salah satu superhero terbaik buatan DC.
7. GREEN ARROW
green arrow
Oliver Queen pada awalnya hanya merupakan seorang miliuner manja, playboy dan suka bermain, sampai pada akhirnya ia terdampar di sebuah pulau tidak berpenghuni selama 5 tahun. Di sana, ia juga berlatih menjadi ahli panah untuk bertahan hidup dan itulah yang menjadi titik awal kepahlawanannya. Sesudah kembali ke Star City, ia menggunakan kekuatannya untuk menjadi Green Arrow dan membela kebenaran.
Sebagai superhero yang menyerupai Robin Hood, dan superhero yang membantu Superman menemukan sifat kepahlawanannya, Green Arrow cukup popular. Jika di Marvel ada Hawkeye, maka di DC ada Green Arrow.
6. ROBIN
robin
Merupakan nama dari pendamping atau sidekick salah satu superhero terbaik DC, yaitu Batman. Sama seperti The Flash, beberapa orang pernah memakai nama ini, seperti Dick Grayson, Jason Todd, Tim Drake, Sthephanie Brown hingga anaknya Batman, Damian Wayne. Di antara beberapa orang ini, ada 2 robin yang bersaing menjadi yang terbaik, yaitu Dick Grayson dan Tim Drake. Dick Grayson pernah dari nama Robin berganti menjadi Nightwing hingga mengenakan kostum Batman saat Bruce Wayne dikira telah meninggal. Di sisi lain, Tim Drake dari Robin meyakinkan Batman bahwa ia cocok menjadi Robin Baru dan pada akhirnya ia melepaskan nama Robin dan mengganti namanya jadi Red Robin pemimpinn Teen Titans.
Terlepas dari karakter-karakter yang pernah mengenak nama Robin, dari kisah seperti di atas saja sudah diketahui bahwa walaupun ia hanya pendamping Batman, ia dapat menjadi menonjol dan mendapatkan kisanya sendiri. Jika Anda mencari di Internet, maka Anda akan menemukan bahwa DC telah membuat banyak komik yang berisikan Robin sebagai tokoh utama (dengan berbagai nama seperti Nightwing) atau karakter di dalam komik itu.
5. WALLY WEST (THE FLASH)
the flash
Dikenal juga sebagai nama "Scarlet Speedster" atau "Manusia Tercepat yang Pernah Ada". The Flash sendiri tidak merujuk ke satu orang saja, ia merujuk ke nama 5 orang yang pernah dijuluki julukan ini, yaitu Jay Garrick, Barry Allen, Wally West, Jesse Chambers dan Bart Allen. Di antara kelima orang ini, ada satu karakter yang dikenal sebagai superhero terbaik DC, yaitu Wally West. Walaupun ia bukan The Flash pertama atau kedua, ia-lah yang membesarkan nama The Flash hingga kita kenal sekarang ini. The Flash sendiri dikatakan lebih cepat daripada Superman.
Nama Wally West terkenal juga karena ia adalah penemu dari Speed Force, yaitu sekumpulan The Flash. Wally Sendiri juga merupakan anggota Teen Titans, New Teen Titans dan Justice League, hal ini membuktikan bahwa Wally West adalah orang yang berperan besar dalam karakter superhero The Flash. Tahukah Anda kalau The Flash juga muncul di Film Smallville sebagai Bart Allen?
4. HAL JORDAN (GREEN LANTERN)
green lantern
Dinilai layak dan pantas, Hal Jordan dipilih menjadi anggota dari Green Lantern untuk melindungi Sector 2814 (Bumi). Kekuatannya didapat dari alien bernama Abin Sur yang berada di titik kematiannya. Di tahun-tahun setelah ia menjadi anggota Green Lantern, Hal Jordan telah mencatatkan namanya di daftar kepahlawanan alam semesta dan dikenal sebagai Green Lantern terbaik yang pernah ada.
Salah satu penyebab mengapa ia berada di urutan teratas superhero DC mungkin karena ia adalah anggota dari Justice League, yaitu tim seperti Avenger buatan Marvel yang merupakan kumpulan dari berbagai superhero keluaran DC seperti Batman dan Superman. Selain dari itu, ia juga merupakan karakter yang berhasil menonjol dari sebuah tim bernama Green Lantern.
3. WONDER WOMAN
wonder woman
Lahir di Pulau bernama Themyscira dan merupakan ras pejuang Amazon, Diana adalah seorang putri, duta besar dan juga seorang pejuang. Dengan kekuatan supernya yang didapat dari Dewa Olympus, ia datang ke Amerika untuk menegakkan keadilan, kebenaran dan kebaikan. Sering disebut sebagai Superman hanya saja muncul dalam bentuk seorang wanita.
Jika kita membicarakan mengenai superhero DC, maka Trinity DC tidak boleh dilupakan. Wonder Woman bersama dengan dua superhero terbaik di bawah, adalah anggota dari Trinity keluaran DC. Tidak hanya itu saja, Wonder Woman pada saat ia dirilis merupakan simbol dari kewanitaan dan duta besar perdamaian dan cinta. Tidak mengherankan jika Wonder Woman masuk ke daftar teratas superhero DC.
2. BATMAN
batman
Bruce Wayne menyaksikan kematian kedua orangtuanya selagi ia masih kecil dan berjanji untuk melakukan balas dendam atas hal ini. Ia berlatih secara ekstensif terkait atas kesempurnaan mental dan fisik, mempelajari kemampuan detektif, bela diri, dan psikologi kriminal. Miliuner yang berkostumkan kelelawar, ia memberikan rasa takut ke semua musuhnya dan melindungi Kota Gotham dari kejahatan.
Jika dibandingkan dengan superhero lainnya, Batman tidak dapat benar-benar dibilang superhero karena ia hanyalah seorang manusia biasa tanpa kekuatan apapun. Tapi itu semua ditutupinya dengan kepintaran dan keahliannya dalam strategi, bela diri serta keberaniannya. Bayangkan seorang miliuner yang menghabiskan kehidupannya untuk menegakkan kebenaran, itulah Bruce Wayne.
1. SUPERMAN
superman
Dikirim oleh orang tuanya dari Planet Krypton, ia diadopsi oleh keluarga Kent dan dibesarkan dengan hati yang bijaksana sebagai seorang laki-laki bernama Clark Kent. Dari kekuatannya yang berasal dari matahari, ia menjadi Superman untuk melindungi umat manusia dengan menegakkan keadilan, kebenaran dan kebaikan. Ia-lah blueprint dari semua superhero lainnya.
Tentu saja jika kita membicarakan mengenai superhero atau pahlawan super terbaik maka Superman pasti berada di urutan teratas. Ini karena ia merupakan superhero pertama yang muncul dalam komik, memang ada superhero lain selain dia, tetapi superhero itu tidak memiliki kekuatan sebanyak dan benar-benar super seperti Superman. Superman adalah figur iconic yang paling terkenal di dunia komik.

Sabtu, 01 Juni 2013

10 superhero marvel paling terkenal

Marvel terus membesarkan namanya di dunia komik dengan merilis berbagai superhero atau pahlawan super yang telah mendunia, seperti Ironman, Spiderman dan masih banyak lagi lainnya, sama seperti pesaingnya DC. Tapi karakter superhero marvel manakah yang paling populer atau terkenal? Berikut 10 hero marvel paling popular.
Kita tidak dapat menyangkal bahwa jika karakter superhero ini tidak terkenal, maka tentunya tidak akan dibuat film yang menceritakan karakter mereka masing-masing.
10. HAWKEYE
hawkeye


Di usianya yang muda ia kehilangan kedua orang tuanya di sebuah kecelakaan mobil dan akhirnya ia bergabung dengan sebuah grup karnival. Di sana ia dilatih oleh seorang kriminal bernama Swordsman (musuh Avenger) untuk menjadi seorang ahli pemanah. Setelah dirinya dijuluk "Pemanah Terbaik di Dunia" ia menyaksikan Iron-Man secara langsung saat beraksi dan terinspirasi darinya. Bersama dengan Black Widow, ia berusaha mencuri teknologi Tony Stark dan bertarung dengan Iron-Man. Karena Black Widow terluka parah, ia kabur dari pertarungan itu dan akhirnya menjadi superhero.
Sebelum kemunculannya di film Avenger, ia bukanlah seorang superhero yang terkenal. Sama seperti Iron-Man, ia hanyalah superhero lain di daftar Marvel. Tetapi begitu kemunculannya di film Avenger, ia mulai dikenal secara mendunia dan banyak rumor yang mengatakan bahwa ia akan memiliki filmnya sendiri. Tahukah Anda kalau Hawkeye juga pernah muncul di film pertama Thor sebagai cameo?
9. THE THING (FANTASTIC FOUR)
The Thing
Benjamin Jacob Grimm, itu adalah nama asli dari The Thing. Sesudah terjadi kegagalan dalam misi luar angkas, Grimm dan sisa anggota timnya terkena sebuah senyawa tidak dikenal yang mengubah dirinya menjadi sebuah mahluk yang terlihat dibangun dari bebatuan. Tentunya keinginan utama dari Jacob adalah kembali ke kehidupan awalnya dan terlepas dari bentuk ini. Hal ini berubah sejak ia dibohongi oleh Dr. Doom yang mengabulkan keinginannya. Dengan dirinya yang kembali menjadi manusia biasa, tidak ada yang dapat menghentikan Dr. Doom dan sisa anggota Fantastic Four berada dalam bahaya. Ia-pun kembali menjadi The Thing dan memulai tindakan superheronya.
Tidak ada yang menyangka bahwa The Thing akan seterkenal karakter Marvel lainnya yang memiliki kisahnya sendiri. Hal ini karena The Thing hanyalah anggota dari Fantastic Four dan ia-pun bukan tokoh utamanya, tetapi kepopularannya dibuktikan dengan selalu masuk dalam daftar karakter terbaik Marvel dan dibuatkan komik yang menceritakan kisahnya sendiri sebagai superhero.
8. THE SILVER SURFER (FANTASTIC FOUR)
The Silver Surfer
Aslinya, ia merupakan seorang ahli astronomi bernama Norrin Radd dari planet Zenn-La. Untuk menyelamatkan planetnya, ia membuat kesepakatan dengan Galactus, Si Pemakan Planet, agar Galactus tidak memakan planetnya ia akan menjadi bawahannya. Oleh karena itu, Galactus memberikannya sedikit kekuatan Galactus, yaitu Power Cosmic. Kekuatan ini memperbolehkannya untuk berselancar dengan kecepatan cahaya, menyembuhkan sesuatu hingga menghancurkan planet.
Mungkin beberapa dari Anda bingung mengapa daftar ini memasukkan silver surfer ke dalam daftar superhero. Hal ini karena sejak ia bertemu dengan Fantastic Four, ia mulai menemukan sifat kepahlawanannya dan Marvel telah membuat banyak komik yang menceritakan tentang dirinya sebagai superhero. Jika Anda mencari daftar karakter Marvel terpopuler, maka Silver Surfer akan sering terlihat masuk di daftar itu. Tahukah Anda kalau Marvel juga membuat komik yang mempertemukan Silver Surfer dengan Spiderman?
7. DAREDEVIL
daredevil
Pada saat ia masih anak kecil, Matt Murdock mengalami kebutaan karena limbah radioaktif saat berusaha menyelamatkan seseorang yang tidak dikenal. Walaupun ia mengalami kebutaan, hal ini justru mempertajam inderanya lain dan membuatnya mendapatkan "radar sense". Titik awalnya sebagai superhero adalah keinginan membalas dendam kematian ayahnya yang merupakan seorang petinju, hingga akhirnya ia dikenal dengan "The Man Without Fear". Di pagi hari, ia adalah seorang pengacara, di malam hari ia adalah Dardevil, penjaga Hell's Kitchen.
Mungkin karena kematian ayahnya yang disebabkan oleh penjahat, ia juga memiliki rasa keadilan terkait atas kejahatan, penjahat, kriminal, khususnya yang dibawahi oleh musuh utama Daredevil, yakni The Kingpin. Salah satu penyebab kepopularannya adalah walaupun ia buta, ia tetap memiliki keberanian dan kecekatan yang dapat membuat orang-orang terpesona. Mungkin film yang menceritakan daredevil sudah lama, tetapi fans dari Daredevil sendiri masih sangat banyak.
6. CAPTAIN AMERICA
captain america
Terlalu kurus, kecil dan lemah untuk bergabung dalam militer US saat Perang Dunia II, Steve Rogers akhirnya memutuskan untuk secara sukarela menjadi bagian dari eksperimen prajurit super. Eksperimen itu-pun berhasil dan membuat kemampuan fisiknya melebihi manusia biasa, keberhasilan ini juga yang membuat dirinya dinamai Captain America. Selama bertahun-tahun setelah membeku di bawah laut, ia hidup kembali di era modern sebagai pemimpin dari tim Avenger, kumpulan superhero-sperhero terkuat.
Superhero dengan perisai berlambang bintang dan kostum bernuansa US ini meningkat dengan cepat popularitasnya di daftar karakter superhero marvel sejak kemunculannya di film "Captain America: The First Avenger" dan film "The Avenger". Walaupun ia sangat bernuansa Amerika, ia memiliki banyak fans di berbagai belahan dunia dan sering terlihat di berbagai komik, televisi dan layar lebar.
5. THOR
Thor
Aslinya, Thor merupakan nama dari Dewa Petir Norwegia dengan palunya yang bernama Mjolnir. Hal inilah mungkin yang menjadi salah satu ide superhero Marvel ini, yaitu Thor si Dewa Petir alam Asgard, Anak dari Odin dan Gaea. Thor sendiri merupakan pejuang yang sangat kuat dan merupakan seorang Dewa, tetapi dikisahkan pada awalnya ia adalah seseorang yang sombong hingga Odin harus menyingkirkan kekuatannya dan membuatnya menjadi manusia biasa hingga ia (Thor) mengubah sifatnya.
Ketenaran dari nama Thor sendiri mungkin disebabkan oleh namanya yang merupakan nama dari Dewa Petir Norwegia dan membuat orang-orang penasaran bagaimana wujudnya sebagai superhero. Tidak hanya itu saja, ketenarannya terus meningkat dengan muncul literatur, gambar, khususnya film mengenai dirinya. Terlebih dengan dirinya sebagai anggota Avenger.
4. THE INCREDIBLE HULK
The Incredible Hulk
Dr. Bruce Banner adalah seorang ilmuwan yang menyimpan sebuah raksasa hijau mengerikan dalam dirinya. Hal ini disebabkan oleh eksperimen ledakan yang berisikan radiasi gamma tingkat tinggi, ia terkena hal ini karena ia berusaha menyelamatkan seorang pemuda bernama Rick Jones. Ini adalah kisah awal buatan Marvel, tetapi beberapa tahun berikutnya ditambahkan kisah mengenai ayahnya yang kasar dan membuat Bruce memiliki luka psikologis dimana ia menyimpan rasa takut dan marah yang sangat besar di dalam dirinya. Inilah yang juga membuat "Si Raksasa Hijau" selalu marah.
Tidak ada yang menyangka bahwa "The Incredible Hulk" ini akan begitu terkenal. Hal ini mungkin disebabkan karena kekuatannya yang luar biasa menakjubkan dan juga karena orang-orang ingin menyaksikan saat-saat dimana "Si Raksasa Hijau" ini terlepas dari kekangan Bruce. Ia juga menjadi lebih terkenal lagi sejak kemunculannya di film Avenger dan filmnya sendiri.
3. WOLVERINE (X-MEN)
Wolverine
Merupakan mutant yang berumur panjang dengan berbagai pengalaman perang. Kehidupan James "Logan" Howlett dipenuhi dengan perang, keganasan dan kesedihan, hal inilah yang menyebabkan dirinya mengejar kemampuan lebih walaupun ia telah menjadi mutant, yakni dengan membuat tulangnya diselimuti adamantium (logam campuran yang tidak bisa dihancurkan). Ia juga memiliki kemampuan menyembuhkan diri yang cepat.
Pada awalnya ia bukanlah sebuah karakter dengan kisahnya sendiri, ia hanya anggota dari tim mutant X-Men. Tetapi ternyata banyak orang yang menggemarinya, sehingga ia akhirnya dibuat lebih menonjol dibandingkan mutant-mutant X-Men lainnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya film yang menceritakan mengenai kisah Wolverine sebagai film tersendiri, dan di X-Men juga dapat dibilang ia adalah karakter utama.
2. IRONMAN
ironman
Merupakan seorang miliuner ternama yang juga merupakan seorang jenius dan engineer ahli, yaitu Tony Stark. Kisahnya sebagai Ironman dimulai ketika ia diculik oleh teroris dan dipaksa untuk membuat sebuah senjata pemusnah massal. Tetapi, dengan kejeniusannya ia membuat sebuah baju baja untuk kabur dan akhirnya ia bersumpah bahwa ia akan melindungi dunia dari bahaya.
Nama "The Invicible Ironman" sendiri sebelumnya tidak begitu dikenal dan ia hanyalah seperti supehero lain ciptaan Marvel. Ia mulai dikenal sejak kemunculannya di bioskop, filmnya langsung menduduki peringkat teratas dan membawa karakter Ironman ke era modern. Ini mungkin disebabkan karena filmnya yang juga menggambarkan teknologi yang canggih dan merupakan anggota dari tim Avenger.
1. SPIDERMAN
spiderman
Spiderman atau dikenal juga dengan nama Peter Parker pada awalnya merupakan seorang pemuda biasa yang ingin mendapatkan hati wanita idamannya. Tapi itu semua berubah ketika ia digigit oleh laba-laba radioaktif yang memperbolehkannya memiliki kekuatan seperti laba-laba. Titik awalnya menjadi seorang superhero adalah karena kata kakeknya "dengan kekuatan yang besar, datang tanggung jawab yang besar."
"Your friendly neighborhood" atau "The Amazing Spiderman" telah berada di hati dan pikiran banyak penggemarnya di berbagai belahan dunia selama bertahun-tahun. Ia dapat dibilang merupakan karakter superhero marvel yang paling sering dijumpai dan muncul di berbagai video game, televisi, film, komik hingga kostum.  Mungkin salah satu alasan mengapa Spiderman sangat digemari orang-orang adalah karena ia hanya pemuda biasa yang terus mengalami 'naik-turun' dalam kehidupannya, walaupun setelah ia jadi superhero. Penyebab ia terkenal lainnya mungkin adalah karena ia merupakan superhero pertama yang memasuki perfilman era modern.

Kamis, 30 Mei 2013

10 Orang yang Selamat Dari Mimpi Terburuk Anda

Dalam kebanyakan kasus, jika seseorang sedang berada dalam kondisi seperti mereka, mereka akan berada dalam situasi yang dikatakan "pasti mati." Tetapi 10 orang berikut ini mengatakan 'tidak' ke statistik dan berhasil melewati apa yang bagi Anda adalah mimpi terburuk dan mereka berhasil selamat dari kematian atau maut.
1. Aron Ralston - Harus memutuskan lengannya sendiri
Aron Ralston


Anda pernah menonton film 127 Hours? Ya, Aron Ralston adalah orang yang menjadi inspirasi dari film tersebut. Ia merupakan seseorang yang hobi mendaki gunung. Tetapi pada tahun 2003, mimpi buruk mendatanginya. Pada saat ia mendaki gunung di Utah, sebuah batu besar menimpa dan menghancurkan lengan kanannya dan ia berada dalam kondisi itu selama 5 hari 7 jam hingga akhirnya ia harus berjalan lagi sepanjang 20 meter untuk menyelematkan dirinya.
"Oh, dia selamat." Mungkin itu yang terlintas di benak Anda, tetapi yang mungkin tidak Anda tahu adalah selama 5 hari lengan kanannya masih tertimpa batu dan tidak bisa dikeluarkan. Hingga akhirnya ia memutuskan mematahkan lengannya, tetapi hal itu juga tidak berhasil hingga cara terakhir adalah memutuskan lengannya sendiri dengan menggunakan alat pendaki gunungnya. Bayangkan apa yang Anda rasakan jika Anda harus memotong sendiri lengan Anda dengan alat apapun yang Anda punya.
2. Michelina Lewandoska - Dikubur hidup-hidup
michelina lewandoska
Michelina Lewandoska, seoran emigran Polandia di UK selamat dari hal yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi ke dirinya, yakni dikubur hidup-hidup oleh tunangannya sendiri, Marcin Kasprzak dengan alasan "sudah bosan." Michelina diserang dengan pistol setrum, diikat pergelangan tangan dan kakinya, dan dimasukkan ke dalam kotak kardus lalu dikubur hidup-hidup.
Yang ironis adalah MIchelina selamat dari kejadian itu berkat cincin pertunangan mereka. Ia menggunakan cincin pertunangan mereka untuk memutuskan tali yang mengikatnya dan menggali keluar dari tanah untuk selamat dari kejadian itu. Sesudah kejadian itu, selama berminggu-minggu Michelina mengalami kesulitan berjalan dan bernapas.
3. Alcides Moreno - Jatuh dari Lantai 47
Alcides Moreno
Bekerja menjadi pembersih kaca bangunan tinggi tentu memiliki resikonya sendiri. Pada tahun 2007, Alcides Moreno mengalami resiko tersebut dimana scaffolding (tempat yang menopang si pembersih kaca) terlepas dan Alcides Moreno serta adik laki-lakinya yang juga bekerja sebagai pembersih kaca jatuh dari ketinggian 47 lantai atau 152 meter. Yang mengejutkan adalah Alcides Moreno selamat bahkan ia sadar dan dalam posisi duduk, sedangkan adiknya tidak.
Dokter yang merawatnya mengatakan "jatuh dari lantai 3 ke atas sudah sangat sulit untuk selamat, jatuh dari lantai 10 biasanya saya tidak melihat pasiennya karena langsung dibawa ke pemakaman." Tapi Alcides selamat dari lantai 47, itu benar-benar mengejutkan. Ada yang mengatakan bahwa ia selamat karena ia dapat menaiki scaffold tersebut dan mengurangi dampak benturan. Walaupun begitu, ia mengalami luka di tulang belakang, otak, tungkai, dan tulang rusuk.
4. Felix - Diculik dan disiksa oleh kartel narkoba Meksiko
penculikan
Kartel atau Gebong narkoba Meksiko telah sangat terkenal dimana berbagai bentuk kekerasan terjadi di sana dan banyak yang tidak selamat, dimulai dari kecelakaan akibat tembakan nyasar hingga penculikan. Tetapi pria 20 tahun yang menyebut namanya sebagai 'Felix' berhasil selamat setelah mengalami mimpi buruk yang panjang dan brutal.
Ia diculik untuk diminta uang tebusan dari keluarganya, di awal minggu penculikannya ia disetrum, dicambuk, dan diperlihatkan jenis penyiksaan lain yang mungkin terjadi di depan matanya. Selama berbulan-bulan ia terus dipukuli dan dipindahkan ke berbagai tempat. Hingga akhirnya pada saat uang tebusan tidak lagi dibayar, ia dipukuli secara brutal dan dibuang begitu saja di jalanan dan diselamatkan oleh petugas kepolisian.
5. Paul Lessard - Terjebak selama 20 jam di sungai yang beku
paul lessard ice creek
Pria berumur 64 tahun ini telah berpikir bahwa ia tidak mungkin selamat dari kejadian dimana mobilnya terbalik dan kepalanya berda dalam kondisi yang tidak mungkin digerakkan, karena jika digerakkan lehernya akan patah. Terlebih ia berada dalam kondisi yang sangat dingin dan beku, tidak hanya itu saja, kebanyakan bagian tubuhnya berada di atas sungai beku.
Walaupun ia telah dilaporkan hilang sejak pagi, pencarian tidak dapat dilakukan hingga esok paginya karena angin dan salju kencang, yang dimana juga harus dialami Paul. Begitu malam tiba, kondisi semakin mendingin dan Paul harus bertahan dalam kondisi itu hingga akhirnya diselamatkan dan didiagnoas hipoterima dan mengalami radang dingin.
6. Jake Finkbonner - Infeksi Bakteri yang Memakan Daging
jake finkbonner
Pada tahun 2006, pemain basket muda berumur 5 tahun mengalami luka di bibir pada karena terbeset dasar ring basket. Anak itu adalah Jake Finkbonner, dan yang tidak ia ketahui adalah ring basket itu mengandung kejutan yang mematikan, yaitu sebuah bakteri yang memakan daging, bakteri Strep.
Bakteri tersebut masuk melalui luka di bibir Jake dan secara perlahan memakan wajahnya, bakteri ini sangat mengerikan karena jika diobati di sisi dimana ia sedang beraksi, ia akan memakan sisi sebelahnya. Keajaiban terjadi, bakteri yang biasanya tidak berhenti hingga si korban meninggal ini secara perlahan melambat dan berhenti. Berbagai operasi plastik-pun dilakukan ke wajah Jake.
7. Ken Henderson - Terdampar di laut sesudah kapal tenggelam
ken henderson
Ken Henderson Bersama dengan temannya, Ed Coen berniat pergi memancing dan ternyata yang menunggu mereka adalah mimpi buruk. Kapal mereka terisi dengan air secara perlahan hingga akhirnya tenggelam dalam air yang dingin. Untungnya, Ken Henderson dan Ed Coen berhasil menggunakan jaket pelampung sebelum kapal tersebut tenggelam.
Selama lebih dari 30 jam, Henderson dan Coen berusaha untuk membuat satu sama lain tidak kehilangan fokus, hingga akhirnya karena Coen sudah berada dalam kondisi yang membahayakan,  Henderson berenang ke arah tempat pengeboran minyak di laut yang disana ia mulai berhalusinasi. 1 hari setengah sesudah kapal mereka tenggelam, Henderson berhasi menemukan sebuah dapur kapal dengan telepon dan akhirnya diselamatkan oleh penjaga pantai. Saynangnya, Ed Coen tidak selamat.
8. Holly Dunn -  Satunya-satunya orang yang selamat dari "Railway Killer" (Pembunuh)
holly dunn
Pada saat Holly Dunn dan pacarnya Chris Maier didekati oleh pria yang tidak dikenal dan memina uang, mereka sedikit kaget dan takut - memang sudah seharusnya. Karena orang tersebut adalah Angel Resendiz, yang  pada saat itu telah membunuh 6 orang dan di tangannya terdapat sebuah pemecah es.
Sesudah memastikan di sekitar mereka tidak ada orang, Holly dan Chris diikat dimana Chris akhirnya dibunuh dengan batu, dan Holly diperkosa, lehernya ditusuk dengan pemecah es dan dipukul hingga mukanya tidak lagi dapat dikenal. Begitu ia sadar bahwa penyerangnya sudah tidak ada, Holly menyeret dirinya ke rumah terdekat yang kemudian dibawa ke rumah sakit dengan rongga mata robek, rahang yang rusak dan luka lainnya. Terkahir, "Railway Killer" diketahui telah membunuh 15 orang dan dihukum mati.
9. Mauro Prosperi - Terdampar di gurun selama 6 hari
Mauro Prosperi
Pada tahun 1994, Mauro Prosperi, seorang petugas polisi Sisilia dan pelari maraton, memasuki lomba Marathon des Sables (maraton di pasir). Maraton memang terkadang cukup melelahkan dan menylitkan, tetapi bagi Mauro Prosper Maraton itu terjadi selama 6 hari dan 233 km.
Pada hari ketiga, ia melenceng dari jalur maratonnya dan terus belari ke arah Algeria hingga akhirnya ia harus bertahan hidup menggunakan air seninya sendiri dan binatang-binatang apapun yang dapat ia tangkap seperti kelelawar, ular dan reptil. Bahkan walaupun ia telah mengirimkan sinyal SOS, tidak ada helipkoter yang melihatnya. Untungnya akhirnya ia ditemukan oleh keluarga nomaden dimana ia diketahui telah turun berat badannya selama 13 kg dan hampir mengalami gagal hati.
10. Truman Duncan - Terbelah dua oleh Kereta Api
Truman Duncan
Petugas Kereta Api, Truman Duncan jatuh dari kereta api dan terlindas kereta api hingga terbelah dua. Ajaibnya, walaupun kehilangan kedua kaki, panggul dan sebuah ginjal. Duncan masih sadar dan dapat menelepon paramedik bahkan berhasil melewati 45 menit dan 23 operasi. Sugguh ajaib bukan?
Terlintas kereta api, masih sadar dan berhasil menelepon paramedis. Bahkan percakapannya-pun cukup lucu.
Duncan : "Saya butuh 911. Saya terbelah dua."
Operator: "Seseorang terlindas?"
Duncan: "Iya saya, sebentar lagi saya akan mengalami syok. Cepatlah bu, karena saya bentar lagi akan pingsan."
Yang membingungkan adalah bagaimana Duncan masih dapat bertahan dari hilangnya darah padahal ia terbelah dua. Beberapa orang mengatakan, Yang Di Atas memiliki bagian dalam peristiwa ini.

Sabtu, 30 Maret 2013

REVIEW: "The Great And Powerful"



"I don't want to be a good man. I want to be a great one." - Oz


Siapapun di Hollywood yang memiliki niatan untuk menciptakan versi anyar dari The Wizard of Oz, itu berarti dia telah menggali kuburnya sendiri. Untungnya, Sam Raimi masih waras – meski banyak filmnya yang dipenuhi dengan kegilaan – dengan sepenuhnya menyadari bahwa karya Victor Fleming tersebut adalah sebuah klasik yang tidak sepatutnya disentuh secara serampangan. Ini terlalu sakral. Segala bentuk usaha pengopian, entah itu resmi maupun tidak, tidak lebih dari percobaan bunuh diri. Raimi tidak menjadikan film terbarunya, Oz the Great and Powerful, sebagai sebuah remake. Ini adalah prekuel dari film legendaris tersebut yang dasar kisahnya dijumput dari novel-novel ‘Oz’ karangan L. Frank Baum. Apa yang dikulik di sini adalah mengenai awal mula terciptanya sosok ‘The Wizard of Oz’. Dengan tampilan visual yang cerah ceria penuh warna, efek khusus yang megah dan mewah, serta jajaran pemain yang rupawan, Raimi – dan Walt Disney, tentu saja – menghadirkan sebuah petualangan yang seru dan menghibur untuk konsumsi seluruh keluarga.

Oz the Great and Powerful memulai perjalanan dengan penghormatan penuh terhadap sang pionir yang ditunjukkan melalui pembukaan film yang dihaturkan dalam format hitam putih dengan aspek rasio 1.33 serta kualitas suara yang monophony. Ini setidaknya berlangsung selama Oscar ‘Oz’ Diggs (James Franco), seorang pesulap yang playboy, masih berada di Kansas. Tapi Anda tidak perlu risau, meski sempat diwarnai dengan percakapan yang cukup membosankan, Raimi akan segera menerbangkan Anda ke Oz. Satu dua keributan yang diciptakan oleh Oz membuatnya berakhir di atas balon udara, menerbangkan diri demi mencari keselamatan, namun justru malah mendekatkannya kepada masalah lain, tornado. Seperti halnya Dorothy, Oz pun terjebak dalam pusaran angin dan melihat berbagai hal aneh sekaligus menyeramkan di sana. Setelah beberapa menit yang menegangkan, Oz mendarat di, yah... Oz, yang ditandai dengan berbagai perubahan seperti aspek rasio menjadi 2.35:1, audio 5.1, penuh dengan warna, dan tentunya, 3D. Oh yeah, we’re not in Kansas anymore.

Belum sempat Oscar berkenalan dengan tempat asing dimana dia mendarat, kejutan lain telah menanti. Sebuah ramalan menyebutkan bahwa akan datang seorang penyihir ke Oz demi melenyapkan ‘the Wicked Witch’ atau penyihir jahat yang saat ini tengah berkuasa setelah berhasil membunuh Raja Oz. Theodora (Mila Kunis) meyakini bahwa ‘penyihir terpilih’ tersebut adalah Oscar. Dengan segera dia membawa Oscar ke Emerald City dan memperkenalkannya kepada sang kakak, Evanora (Rachel Weisz) yang mengiming-iminginya dengan kekuasaan serta emas yang melimpah ruah apabila Oscar sanggup mengalahkan ‘Wicked Witch’. Meski pada awalnya cenderung ogah-ogahan, pada akhirnya Oscar pun tetap berangkat menunaikan tugasnya memburu sang penyihir jahat dengan melintasi jalanan bata kuning ditemani monyet terbang ceriwis bernama Finley (Zach Braff), boneka keramik China Girl (Joey King), serta penyihir baik hati bernama Glinda (Michelle Williams).

Tanpa diduga, Oz the Great and Powerful ternyata sanggup menyajikan sebuah hiburan yang benar-benar menyenangkan. Walt Disney melakukan keputusan yang tepat dengan memekerjakan Sam Raimi. Wajar adanya apabila film ini masih belum mampu menandingi kualitas The Wizard of Oz yang sedemikian hebat dan tak lekang oleh waktu tersebut secara keseluruhan. Akan tetapi, dengan teknologi yang telah jauh maju ke depan, memungkinkan Raimi untuk bermain-main dengan efek khusus dalam film teranyarnya ini. Bujet yang disuntikkan oleh Disney hingga mencapai angka $215 juta dimanfaatkannya dengan baik untuk menciptakan ‘Oz’ beserta isinya yang cantik, megah, dan menakjubkan. Yah, tidak benar-benar sempurna terlebih di paruh awal dimana segalanya masih terlihat palsu dan terlalu ‘CGI’, namun seiring dengan berjalannya waktu, Emerald City (dan tentunya, Oz) tidak lagi nampak memalukan serta menjadi semakin baik dan semakin baik. Apabila Anda ingin merasakan sensasi menjelajahi Oz secara maksimal, maka pilihan menonton dalam format 3D sangat disarankan. Tidak ada kepalsuan di dalamnya, sungguh terasa kemunculan serta kedalamannya.

Apabila Anda telah menyaksikan versi film tahun 1939, maka tidak susah untuk menebak kemana film akan bermuara. Akan tetapi, bagusnya, sekalipun tidak banyak kejutan yang tersedia (selain identitas siapakah diantara ketiga penyihir dalam film yang merupakan ‘Wicked Witch’), film tetap sanggup membuat saya duduk manis, perhatian tetap tertuju penuh ke layar lebar, serta tiada rasa bosan yang menghinggapi hingga credit title bergulir. Skrip yang dipoles oleh duo David Lindsay-Abaire dan Mitchell Kapner sekalipun tidak luar biasa hebat, namun tetap harus diakui sungguh mengesankan. Mereka berhasil menyuguhkan jalinan penceritaan yang mengasyikkan untuk diikuti dengan sisipan humor segar yang tiada henti-hentinya membuat penonton tertawa terbahak-bahak – khususnya jika itu berasal dari Finley – serta ada sebuah kehangatan dan hati untuk sentuhan terakhir di penghujung kisah. Beberapa referensi halus yang merujuk kepada versi klasik pun turut disisipkan di sela-sela petualangan Oscar di Oz sebagai sebuah ‘homage’.

Tidak banyak kesenangan yang diraih apabila saat menyimak Oz the Great and Powerful, Anda terlalu sibuk untuk menyandingkannya dengan versi Judy Garland. Keduanya bagus dengan caranya sendiri. Sekalipun ‘Almost Home’ sangat mudah dilupakan dan jauh kelasnya dari ‘Over the Rainbow’ atau James Franco tidak memiliki kharisma yang kuat sebagai penyihir hebat Oz, akan tetapi Sam Raimi berhasil menghantarkan Oz the Great and Powerful sebagai produk hiburan yang memuaskan dengan production value yang mencengangkan. Setidaknya, ada efek khusus, tata rias, tata rambut dan kostum yang dapat dibanggakan serta belum apa-apa diprediksi akan mampu berbicara banyak di penyelenggaraan Oscar tahun depan. Meski Franco tidak lebih dari James Franco di sini, jajaran pemain lain semacam Rachel Weisz, Michelle Williams, dan Mila Kunis masing-masing sanggup bermain dengan kuat, khususnya Williams yang tampil sempurna sebagai Glinda. Skrip yang biasanya cenderung dianaktirikan, terlebih jika efek khusus menjadi perhatian utama, sangat diperhatikan di sini. Petualangan kembali ke Oz yang sekali ini menyibak masa lalu dari ‘pria di balik tirai’ ini memang tidak mencapai tahapan ‘great’ maupun ‘powerful’ seperti judulnya, akan tetapi ini tetaplah sebuah tontonan eskapisme yang menyegarkan. Inilah produk terbaik dari Hollywood di tahun 2013, sejauh ini.

Exceeds Expectations

Jumat, 29 Maret 2013

REVIEW: "Olympus Has Fallen"



Bagaimana jadinya jika tempat teraman di negeri adidaya – atau bahkan dunia – yakni Gedung Putih berhasil dilumpuhkan secara total oleh sekelompok teroris sehingga berarti tidak lagi tersisa tempat yang benar-benar aman dan tidak terjamah di muka bumi ini? Kekacauan dalam tingkatan yang masif pun hampir dapat dipastikan dengan segera melanda berbagai belahan dunia tatkala rumah kepresidenan di Amerika Serikat berhasil diduduki dengan mudah oleh para teroris yang bengis. Perang dunia akan kembali pecah. Yang menjadi pertanyaan, apakah hal ini akan benar-benar terjadi? Tiada yang tidak mungkin di dunia ini – walau tentunya saya tidak berharap demikian – meski untuk sekali ini, hal tersebut hanyalah bagian dari premis setidaknya dua film Hollywood yang beredar di tahun 2013, Olympus Has Fallen dan White House Down. Judul pertama yang diproduksi oleh Millennium Films lebih dahulu mencuri start pada akhir Maret ini di bawah komando Antoine Fuqua. Sayangnya, belum apa-apa rasa skeptis telah membuncah dengan menilik deretan pemain, sutradara, serta studio yang tergolong bukanlah nama besar di Hollywood. Akankah Olympus Has Fallen sanggup berdiri dengan kokoh atau malah justru runtuh kala disajikan ke khalayak ramai? Mari kita simak. 

Olympus sendiri merupakan kode fiksi yang digunakan oleh Dinas Rahasia Amerika Serikat yang merujuk kepada Gedung Putih. Kejatuhan dari Gedung Putih sendiri bermula dari sebuah kunjungan yang dilakukan oleh Perdana Menteri Korea Selatan pada 5 Juli 2012. Tiada yang menyangka jika pertemuan antara petinggi dari Negeri Gingseng dengan Presiden Benjamin Asher (Aaron Eckhart) tersebut akan berujung kepada malapetaka. Dengan persiapan yang matang serta dilengkapi persenjataan maha canggih, para teroris dari Korea Utara berhasil menyusup ke tempat teraman di dunia tersebut dan melumpuhkannya. Presiden serta beberapa staf penting digiring ke bunker dan menjadi sandera Kang Yeonsak (Rick Yune), salah satu teroris paling dicari di muka bumi. Sementara terjadi kekosongan di tampuk pemerintahan, Allan Trumbull (Morgan Freeman) yang merupakan Juru Bicara Kepresidenan mengambil alih untuk sementara. Kekuatan dari para teroris dibuktikan dengan betapa sulitnya menembus pertahanan mereka serta banyaknya agen yang bertumbangan satu demi satu. Berpacu dengan waktu, satu-satunya harapan Amerika Serikat – dan dunia, tentu saja – tersisa kepada Mike Banning (Gerard Butler), salah satu agen rahasia terbaik sekaligus kepercayaan Presiden Asher yang sempat vakum dari lapangan untuk beberapa saat lantaran sebuah peristiwa traumatis menjelang perayaan Natal yang berkaitan dengan keluarga sang presiden. 

Baiklah, Olympus Has Fallen memang bukanlah sebuah film yang dipersenjatai dengan naskah yang menakjubkan maupun serangkaian dialog yang brilian. Anda tentu sudah mengetahuinya. Segalanya dalam film ini, sangat mudah untuk ditebak dan tentunya... klise. Memang ada satu dua ‘twist’ yang disisipkan oleh duo penulis skrip Creighton Rothenberger dan Katrin Benedikt yang sanggup membuat beberapa penonton berkata ‘Oh, saya tidak menyangka ternyata dia...’ atau ‘Ya Tuhan, ternyata seperti itu...’ meski sebagian besar tentu telah mengira hal tersebut akan datang terlebih jika telah hafal di luar kepala dengan formula yang memang kerap digunakan oleh film sejenis. Pun demikian, segala sesuatu yang berbau klise, mudah ditebak, dan tidak lebih dari sekadar bongkar pasang ini tetap sanggup dikemas menjadi sesuatu yang menyenangkan serta menarik untuk disimak berkat penanganan yang cermat dari Antoine Fuqua yang sebelumnya kita kenal melalui Training Day, Shooter, dan The Replacement Killers serta editing hebat hasil kerja keras dari John Feroua. Sejumlah momen yang sanggup membuat penonton menahan nafas selama beberapa detik pun berhasil dihadirkan. 

Untuk sekali ini, Fuqua menyingkirkan sejenak idealismenya dan benar-benar menyuguhkan sebuah tontonan eskapisme murni bagi penonton. Berbagai adegan tak dapat diterima akal sehat lengkap dengan serba kebetulannya yang kerap menghiasi film heroisme Hollywood pun turut dimunculkannya atas nama hiburan. Fuqua benar-benar menjaga tensi film agar tetap stabil serta cenderung merangkak naik tanpa sekalipun mengendur hanya untuk memberi ruang bagi dramatisasi maupun penjelasan panjang lebar motif para teroris yang melelahkan. Tidak, sama sekali tidak. Dengan ‘pace’ yang melaju kencang tak terhentikan disertai ledakan disana-sini, plus muncratan darah sebagai bonus, adrenalin Anda akan terus dipacu hingga film menyudahi segalanya di menit ke-120. Segala bentuk ketegangan dan keseruan yang hadir di sini tentu tidak bisa dilepaskan dari kinerja departemen efek khusus yang luar biasa. Anda tentu tidak berpikir bahwa Gedung Putih betul-betul dihancurkan hanya demi kebutuhan film, bukan? Ini hanyalah sebuah set khusus yang kemudian diluluhlantakkan dengan bantuan CGI. Sesekali memang terlihat kasar dan palsu (setidaknya di awal film), namun seringkali terlihat meyakinkan dan membuat penonton percaya bahwa Gedung Putih hancur. Mengesankan. 

Meski ini tidak lebih dari sebuah film untuk bersenang-senang, pada kenyataannya jajaran pemain bermain dengan serius yang secara otomatis turut mengangkat Olympus Has Fallen ke tingkatan yang lebih terhormat. Gerard Butler dengan fisiknya yang tegap atletis sanggup merasuk ke jiwa Banning dan tampil beringas tanpa kenal ampun kala berhadapan dengan Kang Yeonsak dan kroni-kroninya. Morgan Freeman, yah... seperti biasa ya, tidak mengecewakan, mengingat ini adalah zona nyamannya maka tiada sesuatu yang benar-benar mengejutkan. Justru yang menarik perhatian saya, di samping Butler dan Aaron Eckhart yang memberikan penampilan terbaik mereka setelah beberapa tahun terakhir cenderung meredup serta Rick Yune yang sangat menjengkelkan, adalah Angela Bassett yang memerankan Kepala Dinas Rahasia yang tangguh serta Melissa Leo sebagai Sekretaris Negara Ruth McMillan yang berjuang habis-habisan melindungi negaranya meski didera siksaan yang tiada berkesudahan dari para teroris. Dua aktris senior ini masih sanggup tampil maksimal sekalipun dalam porsi tampil yang minimal. 

Pada akhirnya, sekalipun Olympus Has Fallen tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar segar serta inovatif dalam genre aksi yang bersinggungan dengan dunia politik (atau sebut saja political thriller) namun Fuqua berhasil menyajikan sebuah tontonan yang mampu mengikat penontonnya untuk tetap duduk manis di kursi bioskop sejak menit pertama hingga lampu bioskop dinyalakan. Menyaksikan Olympus Has Fallen bagaikan menerima sebuah bingkisan yang dikemas seolah ala kadarnya namun membuat hati terpuaskan dan riang gembira setelah membukanya. Sebuah kejutan manis yang tidak disangka-sangka. Saya benar-benar terhibur dan berhasil dibuat tegang kala menyaksikan Olympus Has Fallen.

Acceptable


Rabu, 13 Maret 2013

REVIEW: "A GOOD DAY TO DIE HARD"



"I'm on fucking vacation!" - John McClane

Dalam perayaan tahun perak, franchise Die Hard yang mulai menghibur para penikmat film pada tahun 1988 melempar jilid kelimanya yang diberi tajuk A Good Day to Die Hard. Ini sekaligus menjadi ajang kembalinya franchise ini ke layar lebar setelah terakhir kali menyambangi penonton 6 tahun silam. Jika segala bentuk kekacauan yang terjadi pada keempat seri sebelumnya berlangsung di Amerika Serikat, maka kali ini John McClane (Bruce Willis) terbang ribuan mil ke belahan dunia lain untuk mengobrak abrik Rusia. Ya, konsep wajib ‘the wrong man in a wrong place at the wrong time’ masih diterapkan di sini. Rencana untuk sedikit bersantai, menggelar ‘family time’ bersama sang putra yang tengah terlibat masalah pelik, dan menikmati keindahan Negeri Beruang Merah ini terusik karena, ya, dia adalah seorang pria yang senantiasa berada di tempat dan waktu yang salah. Itulah John McClane. Tidak peduli kemanapun dia pergi, jika itu berarti adalah sekuel dari Die Hard, maka berkah tersebut akan selalu berada di sisinya.  

Di dalam seri kelima ini, John McClane melanglang ke Moskow, Rusia, usai mendapati anak laki-lakinya, Jack McClane (Jai Courtney), sedang mengalami masalah. Setelah perjalanan panjang nan melelahkan dan belum sempat untuk menikmati secangkir teh hangat, meregangkan otot kaki, atau berendam air panas, John langsung disambut oleh serangkaian kekacauan saat menjejakkan kaki di ibu kota Rusia tersebut. Pertemuannya dengan sang putra berlangsung dalam situasi yang salah dan tidak mengenakkan. Jack, yang ternyata adalah seorang agen CIA, tengah dalam misi menyelamatkan seorang tahanan politik bernama Yuri Komarov (Sebastian Koch) yang terlibat dalam sebuah kasus kebocoran radiasi nuklir di Chernobyl pada tahun 1986. Mantan rekannya yang sekaligus seorang pejabat tinggi di pemerintahan Rusia, Chagarin (Sergei Kolesnikov), mengkhianatinya dan berencana untuk melenyapkan Komarov dari muka bumi setelah mengetahui bahwa Komarov memiliki dokumen penting yang membongkar keterlibatan Chagarin dalam peristiwa Chernobyl. John yang semula tidak tahu menahu mengenai kasus ini pun akhirnya ikut terseret ke dalamnya setelah dia memutuskan untuk ikut campur demi menolong sang anak sekaligus memperbaiki hubungan yang retak diantara mereka. 

John Moore yang bertindak selaku sutradara tak banyak berbasa-basi dalam membuka film. Penonton yang telah duduk manis di dalam gedung bioskop seraya ngemil berondong jagung dan menyeruput segelas soda langsung disuguhi dengan adegan kejar-kejaran mobil yang masif di tengah lalu lintas Moskow yang sangat padat. Bang bangboom boom! Berlangsung dalam durasi yang terbilang panjang, gelaran aksi yang dihadirkan ini jelas merupakan sebuah pembuka yang seru dan menyenangkan. Apabila Anda menggemari tontonan dimana sejumlah mobil mengalami nasib naas melalui berbagai penghancuran yang tidak manusiawi, maka apa yang tersaji di layar akan membuat Anda bersemangat. Dan selayaknya jilid lain dari franchise ini dimana ledakan demi ledakan menjadi pemandangan yang umum, maka Moore pun membawanya ke level lebih tinggi di sini. Segalanya menjadi semakin besar. Adegan aksinya tersaji nyaris tanpa putus dimulai dari jalanan Moskow yang padat hingga berakhir di Chernobyl melalui konfrontasi akhir yang melibatkan helikopter. Benar-benar hancur-hancuran dan sangat berisik. 

Ini jelas menjadi sebuah suguhan yang mengasyikkan bagi siapapun yang datang ke bioskop mengharapkan sebuah tontonan aksi yang tidak membutuhkan pemikiran serius dan hanya diisi dengan serangkaian ledakan, tendangan, dan tembakan yang tiada berkesudahan. Bukan sesuatu yang salah, tentu saja. Akan tetapi hal ini tidak lantas mengizinkan sang penulis skenario, Skip Woods, untuk bermalas-malasan dalam merajut skrip. Memunculkan adegan laga yang berkepanjangan demi menutupi lubang demi lubang yang menganga lebar dalam hal penceritaan. Terlalu fokus untuk menciptakan sebuah inovasi anyar dalam hal adegan laga sehingga mampu membuat mulut penonton menganga, Woods lupa bahwa bagaimanapun A Good Day to Die Hardtetaplah sebuah film yang membutuhkan naskah. Kisah yang disampaikan seolah hanya tempelan belaka dan dihadirkan demi menggugurkan kewajiban bahwa sebuah film kudu memiliki cerita. Nyaris kosong tak berisi. Hubungan antara John dan Jack ditampilkan sekenanya serta tidak pernah tergali lebih mendalam sehingga penonton pun tidak pernah diberi kesempatan untuk menaruh simpati ke kedua tokoh ini. Dingin dan hambar. Yang terlihat justru lebih menyerupai hubungan antara seorang ‘hero’dengan ‘sidekick’-nya ketimbang ayah dan anak. Apabila ini masih bisa dimaafkan, maka bagaimana dengan sang villain yang sama sekali tidak meninggalkan greget, terkesan lemah dan jelas kalah telak dengan para penjahat di jilid-jilid sebelumnya? Penggemar berat Die Hard pun akan mendengus kesal. Upaya untuk menciptakan twist di paruh akhir pun berakhir pada kegagalan lantaran sama sekali tidak istimewa dan telah usang, tentu saja. Sangat mudah untuk ditebak. 

Dengan naskah yang bahkan lebih ringan dari bulu tersebut, apakah A Good Day to Die Hard lantas menjelma menjadi sebuah film yang buruk? Tergantung dari sisi mana Anda melihatnya. Untuk saya pribadi, A Good Day to Die Hard tidak sepenuhnya gagal. Menyenangkan untuk disaksikan, walaupun sangat mudah untuk dilupakan. Meski mengalami kemorosotan kualitas yang cukup signifikan dari Live Free or Die Hard, akan tetapi segala bentuk adegan aksi pemacu adrenalin yang ditampilkan di sini setidaknya sedikit banyak mampu menyelamatkan muka franchise Die Hard. Harus diakui, gelaran aksinya jelas sangat ‘wow’ dan menghibur walaupun ini masih belum mampu mengobati kekecewaan sebagian penggemar berat yang tentunya mengharapkan jilid ini hadir bukan hanya untuk merayakan peringatan ulang tahun ke-25 dengan sajian aksi kosong tak berotak namun lebih dari itu. Meski demikian, A Good Day to Die Hard tetaplah sebuah film yang mengasyikkan terlebih jika niatan Anda untuk menyaksikan film ini hanyalah untuk melepas penat dan bersenang-senang dengan melihat seribu satu jenis ledakan. Yippee-ki-yay, motherfucker!

Acceptable


Selasa, 12 Maret 2013

REVIEW: "WARM BODIES"



"I don't want to be this way. I am lonely, I am lost. I mean I am literally lost, I have never been in this part of the airport before." - R

Jangan terburu-buru memberikan penghakiman awal terhadap Warm Bodies dengan menyebutnya sebagai ‘another Twilight Saga’, pengekor ‘romansa epik Cullen dan Swan’, kisah cinta menye-menye atau berbagai sebutan lain yang pada akhirnya mengaitkan film yang beranjak dari novel berjudul sama karangan Isaac Marion ini dengan franchise laris tersebut. Karena pada kenyatannya, selain kesamaan tema yang mengapungkan kisah cinta terlarang antara manusia dengan makhluk fantasi, Warm Bodies jelas sangat berbeda dengan Twilight. Inspirasi yang dijadikan sebagai pijakan untuk mengembangkan kisah adalah karya legendaris milik Shakespeare, Romeo and Juliet. Lantas, segala elemen ‘classic love story’ ini dituangkan ke dalam kuali, diaduk merata bersama ramuan bernama ‘post apocalyptic’, dan ‘zombie’. Terdengar aneh? Memang, hingga Anda menyaksikan hasil eksekusi dari Jonathan Levine dengan mata kepala sendiri. Adalah sebuah kejutan yang menyenangkan saat mengetahui kisah romansa fantasi ini terhidang sebagai sajian yang segar, manis, hangat, jenaka, sekaligus menghibur. 
 
Warm Bodies membawa Anda ke masa depan dimana bumi tercinta ini tidak lagi sebuah tempat yang indah, nyaman, dan layak untuk dihuni. Sebuah wabah zombie mendadak menyebar dengan cepat, menjangkiti manusia, dan pada akhirnya, tentu saja, mengubah manusia menjadi zombie. Mereka yang berhasil selamat mendiami sebuah wilayah yang dipisahkan oleh tembok raksasa dan dijaga dengan ketat. Sementara para zombie, yah, berkeliaran dimana-mana. Salah satu tempat, sekaligus menjadi setting utama dari film ini, adalah bandara dimana sang tokoh utama, R (Nicholas Hoult), tinggal. Demi mengembangkan kisah – serta tentunya menjadikannya berbeda – Levine dan Marion tidak memperlakukan para zombie selayaknya film horror kebanyakan dimana mereka hanya memiliki nafsu untuk mengunyah habis manusia, masih ada pikiran dan sedikit hati yang tertinggal. R, sebagai contoh, berusaha keras untuk mengingat jati dirinya dan menjalin tali persahabatan dengan M (Rob Corddry). Segala bentuk komunikasi dan pemikiran ini disampaikan dalam ‘voice-over’ yang sedikit banyak mengingatkan pada film-film garapan John Hughes. 

Setelah kehidupan yang serba menjemukan, luntang lantung dalam gerakan yang sangat lambat, R memperoleh secercah harapan untuk masa depan yang seharusnya tidak pernah dimilikinya. Setidaknya, R tidak akan bertransformasi menjadi Boneys – tengkorak hidup yang merupakan perwujudan dari zombie yang tak lagi terselamatkan dan menjadikan zombie sebagai mangsa – dalam waktu dekat. Harapan itu berwujud seorang gadis bernama Julie Grigio (Teressa Palmer) yang ditemuinya kala R dan kawan-kawan zombie-nya menyerang kelompok Julie yang tengah dalam misi mencari obat di sebuah gedung. Menghabisi rombongan, termasuk menyantap otak pacar Julie, Perry (Dave Franco), demi mendapatkan memori serta ‘feel alive’, R lantas menculik Julie dan menjadikannya tahanan selama beberapa hari. Dari sebuah perkenalan yang tidak berjalan mulus, hubungan diantara mereka kian berkembang setelah hari demi hari terlewati. Rasa ketertarikan makin menguat meski ini tentu tidak akan mudah, terlebih ayah Julie, Colonel Grigio (John Malkovich), terobsesi untuk menghancurkan para zombie. Akan tetapi, yang tidak disadari oleh para tokoh ini sebelum film mencapai klimaksnya adalah sebuah fakta bahwa Julie memberikan dampak yang teramat positif bagi masa depan para zombie. Dia bukan hanya sekadar tahanan yang memberikan kebahagiaan bagi R semata. 

Apabila Anda memutuskan untuk menghindari Warm Bodies hanya karena film ini memiliki kesamaaan ide cerita dengan Twilight, maka itu adalah sebuah kerugian besar. Dibentangkan secara pas sepanjang 97 menit, Levine yang sebelumnya menghasilkan 50/50 yang sangat menyentuh, memberikan banyak kesenangan dan tentunya, momen-momen yang ‘so sweet’ ke dalam film tanpa pernah terjerembap menjadi suguhan yang norak atau menggelikan. Bagusnya, para fans zombie serta mereka yang mengharapkan sebuah sajian romansa yang unik, akan sama-sama terpuaskan. Porsi untuk teror dari para zombie – serta Boneys – dan romantisme terlarang terbagi dengan merata, meski tentunya, Levine cenderung lebih menyoroti hubungan yang terjalin antara R dan Julie, naik turunnya, konflik internal serta eksternal yang melingkupi, serta bagaimana kisah cinta tidak biasa ini memberikan dampak yang signifikan terhadap kelangsungan hidup para manusia serta zombie. Semuanya dituturkan dengan gaya yang berkelas, penuh dengan tebaran humor menggelitik yang cerdas demi mempertahankan mood penonton agar tetap konsisten hingga akhir, serta serangkaian tembang lawas legendaris – sebut saja Missing You,Patience, hingga Pretty Woman – yang penempatannya sungguh tepat sehingga sanggup membangun ‘feel’. 

Akan tetapi, ini tentu tidak akan berjalan dengan semestinya apabila jajaran pemain dalam departemen akting tidak berlakon secara baik. Nicholas Hoult – yang kita kenal melalui About a Boy dan X-Men: First Class, dan segera tampil di Jack the Giant Slayerdan Mad Max: Fury Road – memberikan sebuah performa yang gemilang sebagai zombie anyar yang dihinggapi kegalauan dan jatuh cinta kepada seorang manusia. Ketika diduetkan dengan Teresa Palmer, terasa percikan di dalam chemistry manis mereka berdua. Hal yang sama turut berlaku saat Hoult berpasangan dengan sahabatnya dalam film, Rob Corddry, dimana kekompakan berhasil terwujudkan. Corddry sendiri merupakan perwakilan dari para zombie dalam memberikan hiburan dalam bentuk canda tawa yang betul-betul menyegarkan sementara untuk kubu manusia diserahkan kepada jebolan America’s Next Top Model, Analeigh Tipton, yang berperan sebagai Nora, sahabat Julie. Lantas, bagaimana dengan John Malkovich? Sama sekali tidak mengecewakan sekalipun porsi perannya di sini terbilang minim sehingga membatasi ruang geraknya dalam mengeksplorasi bakat aktingnya. 

Memang, sejatinya tidak ada sesuatu yang benar-benar baru yang ditampilkan oleh Levine dalam Warm Bodies. Segala hal yang dilakukan oleh zombie di sini – zombie berlari, zombie jatuh cinta, zombie ngelawak – sudah pernah penonton saksikan di sejumlah film zombie yang beredar setidaknya dalam satu dekade terakhir. Akan tetapi, yang lantas menjadikannya istimewa adalah bagaimana upaya Levine mengemas ulang segala bentuk keklisean di sini sehingga menjadi sesuatu yang segar dan menyenangkan. Skrip yang disulamnya sendiri mengikuti pola yang dibentuk oleh Marion ditaburinya dengan dialog yang bernas nan menggelitik. Gaya bertutur diwujudkannya selayaknya film-film milik John Hughes, lantas disisipi dengan koleksi tembang-tembang pilihan yang sungguh mengesankan, dan kemudian dihantarkan dengan memanfaatkan performa dari para pemain berbakat yang mampu menginterpretasi peran mereka dengan tepat. Kecengengan dan menye-menye – yang biasanya menjadi bagian tak terpisahkan dari romantisme terlarang – dihapuskan dan diganti dengan ketegaran serta keoptimisan. Levine pun sanggup menjadikan Warm Bodies sebagai candu sehingga menyaksikannya hanya sekali tidak akan terasa cukup.

Exceeds Expectations