Kamis, 14 Maret 2013

Teknik Dasar Pertahanan Diri


Seri Pengetahuan Umum Teknik Dasar Pertahanan Diri
Buset serius amat itu judulnya kayak judul skripsi. Tapi gapapa, namanya juga seri pengetahuan umum. Melihat semakin meningkatnya kasus kriminalitas akhir-akhir ini, MBDC merasa perlu untuk memberikan informasi dasar untuk kamu kamu (yang cupu dan gak bisa berantem) tentang teknik bela diri yang paling dasar saat keadaan terdesak. Kecuali kamu udah sejago Mad Dog atau Machete sih ya, silakan diskip aja artikel ini. Nah jadi hal-hal yang harus kamu lakukan adalah,


Menghindar

Percayalah, menghindari konfrontasi langsung itu adalah sangat bijaksana. Terutama kalau kamu gak terlalu jago berantem. Duit bisa dicari lagi, tapi kalau sampai patah tulang, kebacok dan lain lain, lebih ribet lagi ntar. Kalau bisa lari sih ya lari aja, asal kamu yakin dengan kecepatan kamu. Tapi itu kalau kasusnya pilih harta atau nyawa ya. Tapi kalau udah harga diri mungkin bolehlah kamu coba untuk lawan. Masak iya misalnya kamu dibully sampe kepala kamu dikencingin kamu diem aja?

Teriak

Yaelah beneran deh, teriak ketika kamu diganggu itu sama sekali gak cemen. Tapi ya teriaknya bukan cuma yang aaaaaaaaaaaaaa gitu doang dong, tapi yang ada kalimatnya. Tapi ya gak juga ngomong, GUE BILANGIN BAPAK GUE LO! Oh terus dorong si penganggu dengan keras, supaya ada jarak dan kamu bisa gertak balik dan atau kabur. Dengan membentak dengan keras kamu juga bisa menarik perhatian orang sekitar, supaya doi jadi lebih ciut gitu. Tapi kalau lagi di tempat sepi dan gak bisa lari sih yah gimana ya, lawan aja lah sebisa mungkin.

LAWAN!

Supaya gak buang-buang energi, seranglah si penganggu di area ini:
Mata
Colok atau cakar. Ini kalau posisi kamu dan si penganggu sejajar. Kalau kamu lebih pendek dari dia ya jangan terusnya jadi loncat-loncat pengen nyolok matanya. Imut bener ntar jadinya, yang ada ntar kamu malah dipeluk terus digendong. Pake jari boleh atau kalau gak mau tangan kamu kotor bisa pake kunci atau apapun benda yang bisa kamu jangkau. Begitu dia kesakitan dan gak bisa lihat, kamu bisa kabur dan atau menyerang area tubuh lainnya.
Hidung
Konon katanya keseimbangan seseorang ada di hidung. Kalau dia ada di depan kamu, gunakan bagian bawah telapak tangan kamu untuk menghajar tulang nasalnya (tau kan ya tulang nasal? Itu yang ditengah antara lobang hidung) dengan sekuat tenaga. Kalau dia ada di belakang kamu, gunakan sikut.
Leher
Leher bagian samping itu juga area yang asik untuk dihajar, bisa sampe bikin pingsan, soalnya ada karotik arteri dan vena jurgular disitu. Telapak tangan lurus ala ala menebas gitu ya. Sekuat tenaga. Oh kamu juga bisa jepit kerongkongannya dengan jari tengah dan telunjuk. Itu bagian paling lemah di tubuh manusia, dengan kekuatan jari aja bisa pecah. Akibatnya bisa kematian. Tapi ingat ya kamu gak boleh ragu-ragu saat melakukannya. Seniat dan sekuat tenaga mungkin lah pokoknya.
Dengkul
Kalau tangan kamu keduanya udah dipegangin gimana? Pake kaki dong. Tendang bagian samping dengkul, biar sempoyongan dan cedera, bagian depan juga bisa sih tapi kemungkinan sempoyongannya lebih kecil daripada kalau kamu tendang dari samping. Bisa kan ya cara nendang? Gak usah dikasih tau lagi.
Bijinya
Kalau si pengganggu punya biji loh ya, literally bukan figuratively. Begitu dia nunduk kesakitan, sikat dagunya pake dengkul kamu. Mudah-mudahan lidahnya lagi keluar jadi dia bisa gak sengaja gigit lidahnya sendiri. Mati deh.
Pake alat
Ya kalo bisa punya beceng sih ya bagus sih ya. Todongin aja juga udah kicep. Tapi kan punya beceng ilegal. Susah juga dapetnya. Eh gak sih kalau kamu bergaul dengan orang-orang yang tepat. Etapi, pake stun gun atau hand taser juga lumayan ampuh, bentuknya juga udah makin beragam ada yang pulpen sampe lipstik. Kalau kamu udah jago banget berantemnya mungkin bisa juga dengan menggunakan alat-alat yang ada di sekitar kamu, kayak Jackie Chan gitu.
Demikiaaanlaah. Mudah-mudahan berguna yes. Jadi gak usah takut lagi yaa kalau pulang malam-malam sendirian gak ada yang nemenin. Ada yang mau nambahin? Silakan tambahin di comments.


Sumber: http://malesbanget.com/2013/03/seri-pengetahuan-umum-teknik-dasar-pertahanan-diri/#ixzz2Mwzu6wZX
Copyright Malesbanget.com 2011
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial No Derivatives

Rabu, 13 Maret 2013

REVIEW: "A GOOD DAY TO DIE HARD"



"I'm on fucking vacation!" - John McClane

Dalam perayaan tahun perak, franchise Die Hard yang mulai menghibur para penikmat film pada tahun 1988 melempar jilid kelimanya yang diberi tajuk A Good Day to Die Hard. Ini sekaligus menjadi ajang kembalinya franchise ini ke layar lebar setelah terakhir kali menyambangi penonton 6 tahun silam. Jika segala bentuk kekacauan yang terjadi pada keempat seri sebelumnya berlangsung di Amerika Serikat, maka kali ini John McClane (Bruce Willis) terbang ribuan mil ke belahan dunia lain untuk mengobrak abrik Rusia. Ya, konsep wajib ‘the wrong man in a wrong place at the wrong time’ masih diterapkan di sini. Rencana untuk sedikit bersantai, menggelar ‘family time’ bersama sang putra yang tengah terlibat masalah pelik, dan menikmati keindahan Negeri Beruang Merah ini terusik karena, ya, dia adalah seorang pria yang senantiasa berada di tempat dan waktu yang salah. Itulah John McClane. Tidak peduli kemanapun dia pergi, jika itu berarti adalah sekuel dari Die Hard, maka berkah tersebut akan selalu berada di sisinya.  

Di dalam seri kelima ini, John McClane melanglang ke Moskow, Rusia, usai mendapati anak laki-lakinya, Jack McClane (Jai Courtney), sedang mengalami masalah. Setelah perjalanan panjang nan melelahkan dan belum sempat untuk menikmati secangkir teh hangat, meregangkan otot kaki, atau berendam air panas, John langsung disambut oleh serangkaian kekacauan saat menjejakkan kaki di ibu kota Rusia tersebut. Pertemuannya dengan sang putra berlangsung dalam situasi yang salah dan tidak mengenakkan. Jack, yang ternyata adalah seorang agen CIA, tengah dalam misi menyelamatkan seorang tahanan politik bernama Yuri Komarov (Sebastian Koch) yang terlibat dalam sebuah kasus kebocoran radiasi nuklir di Chernobyl pada tahun 1986. Mantan rekannya yang sekaligus seorang pejabat tinggi di pemerintahan Rusia, Chagarin (Sergei Kolesnikov), mengkhianatinya dan berencana untuk melenyapkan Komarov dari muka bumi setelah mengetahui bahwa Komarov memiliki dokumen penting yang membongkar keterlibatan Chagarin dalam peristiwa Chernobyl. John yang semula tidak tahu menahu mengenai kasus ini pun akhirnya ikut terseret ke dalamnya setelah dia memutuskan untuk ikut campur demi menolong sang anak sekaligus memperbaiki hubungan yang retak diantara mereka. 

John Moore yang bertindak selaku sutradara tak banyak berbasa-basi dalam membuka film. Penonton yang telah duduk manis di dalam gedung bioskop seraya ngemil berondong jagung dan menyeruput segelas soda langsung disuguhi dengan adegan kejar-kejaran mobil yang masif di tengah lalu lintas Moskow yang sangat padat. Bang bangboom boom! Berlangsung dalam durasi yang terbilang panjang, gelaran aksi yang dihadirkan ini jelas merupakan sebuah pembuka yang seru dan menyenangkan. Apabila Anda menggemari tontonan dimana sejumlah mobil mengalami nasib naas melalui berbagai penghancuran yang tidak manusiawi, maka apa yang tersaji di layar akan membuat Anda bersemangat. Dan selayaknya jilid lain dari franchise ini dimana ledakan demi ledakan menjadi pemandangan yang umum, maka Moore pun membawanya ke level lebih tinggi di sini. Segalanya menjadi semakin besar. Adegan aksinya tersaji nyaris tanpa putus dimulai dari jalanan Moskow yang padat hingga berakhir di Chernobyl melalui konfrontasi akhir yang melibatkan helikopter. Benar-benar hancur-hancuran dan sangat berisik. 

Ini jelas menjadi sebuah suguhan yang mengasyikkan bagi siapapun yang datang ke bioskop mengharapkan sebuah tontonan aksi yang tidak membutuhkan pemikiran serius dan hanya diisi dengan serangkaian ledakan, tendangan, dan tembakan yang tiada berkesudahan. Bukan sesuatu yang salah, tentu saja. Akan tetapi hal ini tidak lantas mengizinkan sang penulis skenario, Skip Woods, untuk bermalas-malasan dalam merajut skrip. Memunculkan adegan laga yang berkepanjangan demi menutupi lubang demi lubang yang menganga lebar dalam hal penceritaan. Terlalu fokus untuk menciptakan sebuah inovasi anyar dalam hal adegan laga sehingga mampu membuat mulut penonton menganga, Woods lupa bahwa bagaimanapun A Good Day to Die Hardtetaplah sebuah film yang membutuhkan naskah. Kisah yang disampaikan seolah hanya tempelan belaka dan dihadirkan demi menggugurkan kewajiban bahwa sebuah film kudu memiliki cerita. Nyaris kosong tak berisi. Hubungan antara John dan Jack ditampilkan sekenanya serta tidak pernah tergali lebih mendalam sehingga penonton pun tidak pernah diberi kesempatan untuk menaruh simpati ke kedua tokoh ini. Dingin dan hambar. Yang terlihat justru lebih menyerupai hubungan antara seorang ‘hero’dengan ‘sidekick’-nya ketimbang ayah dan anak. Apabila ini masih bisa dimaafkan, maka bagaimana dengan sang villain yang sama sekali tidak meninggalkan greget, terkesan lemah dan jelas kalah telak dengan para penjahat di jilid-jilid sebelumnya? Penggemar berat Die Hard pun akan mendengus kesal. Upaya untuk menciptakan twist di paruh akhir pun berakhir pada kegagalan lantaran sama sekali tidak istimewa dan telah usang, tentu saja. Sangat mudah untuk ditebak. 

Dengan naskah yang bahkan lebih ringan dari bulu tersebut, apakah A Good Day to Die Hard lantas menjelma menjadi sebuah film yang buruk? Tergantung dari sisi mana Anda melihatnya. Untuk saya pribadi, A Good Day to Die Hard tidak sepenuhnya gagal. Menyenangkan untuk disaksikan, walaupun sangat mudah untuk dilupakan. Meski mengalami kemorosotan kualitas yang cukup signifikan dari Live Free or Die Hard, akan tetapi segala bentuk adegan aksi pemacu adrenalin yang ditampilkan di sini setidaknya sedikit banyak mampu menyelamatkan muka franchise Die Hard. Harus diakui, gelaran aksinya jelas sangat ‘wow’ dan menghibur walaupun ini masih belum mampu mengobati kekecewaan sebagian penggemar berat yang tentunya mengharapkan jilid ini hadir bukan hanya untuk merayakan peringatan ulang tahun ke-25 dengan sajian aksi kosong tak berotak namun lebih dari itu. Meski demikian, A Good Day to Die Hard tetaplah sebuah film yang mengasyikkan terlebih jika niatan Anda untuk menyaksikan film ini hanyalah untuk melepas penat dan bersenang-senang dengan melihat seribu satu jenis ledakan. Yippee-ki-yay, motherfucker!

Acceptable


Selasa, 12 Maret 2013

REVIEW: "WARM BODIES"



"I don't want to be this way. I am lonely, I am lost. I mean I am literally lost, I have never been in this part of the airport before." - R

Jangan terburu-buru memberikan penghakiman awal terhadap Warm Bodies dengan menyebutnya sebagai ‘another Twilight Saga’, pengekor ‘romansa epik Cullen dan Swan’, kisah cinta menye-menye atau berbagai sebutan lain yang pada akhirnya mengaitkan film yang beranjak dari novel berjudul sama karangan Isaac Marion ini dengan franchise laris tersebut. Karena pada kenyatannya, selain kesamaan tema yang mengapungkan kisah cinta terlarang antara manusia dengan makhluk fantasi, Warm Bodies jelas sangat berbeda dengan Twilight. Inspirasi yang dijadikan sebagai pijakan untuk mengembangkan kisah adalah karya legendaris milik Shakespeare, Romeo and Juliet. Lantas, segala elemen ‘classic love story’ ini dituangkan ke dalam kuali, diaduk merata bersama ramuan bernama ‘post apocalyptic’, dan ‘zombie’. Terdengar aneh? Memang, hingga Anda menyaksikan hasil eksekusi dari Jonathan Levine dengan mata kepala sendiri. Adalah sebuah kejutan yang menyenangkan saat mengetahui kisah romansa fantasi ini terhidang sebagai sajian yang segar, manis, hangat, jenaka, sekaligus menghibur. 
 
Warm Bodies membawa Anda ke masa depan dimana bumi tercinta ini tidak lagi sebuah tempat yang indah, nyaman, dan layak untuk dihuni. Sebuah wabah zombie mendadak menyebar dengan cepat, menjangkiti manusia, dan pada akhirnya, tentu saja, mengubah manusia menjadi zombie. Mereka yang berhasil selamat mendiami sebuah wilayah yang dipisahkan oleh tembok raksasa dan dijaga dengan ketat. Sementara para zombie, yah, berkeliaran dimana-mana. Salah satu tempat, sekaligus menjadi setting utama dari film ini, adalah bandara dimana sang tokoh utama, R (Nicholas Hoult), tinggal. Demi mengembangkan kisah – serta tentunya menjadikannya berbeda – Levine dan Marion tidak memperlakukan para zombie selayaknya film horror kebanyakan dimana mereka hanya memiliki nafsu untuk mengunyah habis manusia, masih ada pikiran dan sedikit hati yang tertinggal. R, sebagai contoh, berusaha keras untuk mengingat jati dirinya dan menjalin tali persahabatan dengan M (Rob Corddry). Segala bentuk komunikasi dan pemikiran ini disampaikan dalam ‘voice-over’ yang sedikit banyak mengingatkan pada film-film garapan John Hughes. 

Setelah kehidupan yang serba menjemukan, luntang lantung dalam gerakan yang sangat lambat, R memperoleh secercah harapan untuk masa depan yang seharusnya tidak pernah dimilikinya. Setidaknya, R tidak akan bertransformasi menjadi Boneys – tengkorak hidup yang merupakan perwujudan dari zombie yang tak lagi terselamatkan dan menjadikan zombie sebagai mangsa – dalam waktu dekat. Harapan itu berwujud seorang gadis bernama Julie Grigio (Teressa Palmer) yang ditemuinya kala R dan kawan-kawan zombie-nya menyerang kelompok Julie yang tengah dalam misi mencari obat di sebuah gedung. Menghabisi rombongan, termasuk menyantap otak pacar Julie, Perry (Dave Franco), demi mendapatkan memori serta ‘feel alive’, R lantas menculik Julie dan menjadikannya tahanan selama beberapa hari. Dari sebuah perkenalan yang tidak berjalan mulus, hubungan diantara mereka kian berkembang setelah hari demi hari terlewati. Rasa ketertarikan makin menguat meski ini tentu tidak akan mudah, terlebih ayah Julie, Colonel Grigio (John Malkovich), terobsesi untuk menghancurkan para zombie. Akan tetapi, yang tidak disadari oleh para tokoh ini sebelum film mencapai klimaksnya adalah sebuah fakta bahwa Julie memberikan dampak yang teramat positif bagi masa depan para zombie. Dia bukan hanya sekadar tahanan yang memberikan kebahagiaan bagi R semata. 

Apabila Anda memutuskan untuk menghindari Warm Bodies hanya karena film ini memiliki kesamaaan ide cerita dengan Twilight, maka itu adalah sebuah kerugian besar. Dibentangkan secara pas sepanjang 97 menit, Levine yang sebelumnya menghasilkan 50/50 yang sangat menyentuh, memberikan banyak kesenangan dan tentunya, momen-momen yang ‘so sweet’ ke dalam film tanpa pernah terjerembap menjadi suguhan yang norak atau menggelikan. Bagusnya, para fans zombie serta mereka yang mengharapkan sebuah sajian romansa yang unik, akan sama-sama terpuaskan. Porsi untuk teror dari para zombie – serta Boneys – dan romantisme terlarang terbagi dengan merata, meski tentunya, Levine cenderung lebih menyoroti hubungan yang terjalin antara R dan Julie, naik turunnya, konflik internal serta eksternal yang melingkupi, serta bagaimana kisah cinta tidak biasa ini memberikan dampak yang signifikan terhadap kelangsungan hidup para manusia serta zombie. Semuanya dituturkan dengan gaya yang berkelas, penuh dengan tebaran humor menggelitik yang cerdas demi mempertahankan mood penonton agar tetap konsisten hingga akhir, serta serangkaian tembang lawas legendaris – sebut saja Missing You,Patience, hingga Pretty Woman – yang penempatannya sungguh tepat sehingga sanggup membangun ‘feel’. 

Akan tetapi, ini tentu tidak akan berjalan dengan semestinya apabila jajaran pemain dalam departemen akting tidak berlakon secara baik. Nicholas Hoult – yang kita kenal melalui About a Boy dan X-Men: First Class, dan segera tampil di Jack the Giant Slayerdan Mad Max: Fury Road – memberikan sebuah performa yang gemilang sebagai zombie anyar yang dihinggapi kegalauan dan jatuh cinta kepada seorang manusia. Ketika diduetkan dengan Teresa Palmer, terasa percikan di dalam chemistry manis mereka berdua. Hal yang sama turut berlaku saat Hoult berpasangan dengan sahabatnya dalam film, Rob Corddry, dimana kekompakan berhasil terwujudkan. Corddry sendiri merupakan perwakilan dari para zombie dalam memberikan hiburan dalam bentuk canda tawa yang betul-betul menyegarkan sementara untuk kubu manusia diserahkan kepada jebolan America’s Next Top Model, Analeigh Tipton, yang berperan sebagai Nora, sahabat Julie. Lantas, bagaimana dengan John Malkovich? Sama sekali tidak mengecewakan sekalipun porsi perannya di sini terbilang minim sehingga membatasi ruang geraknya dalam mengeksplorasi bakat aktingnya. 

Memang, sejatinya tidak ada sesuatu yang benar-benar baru yang ditampilkan oleh Levine dalam Warm Bodies. Segala hal yang dilakukan oleh zombie di sini – zombie berlari, zombie jatuh cinta, zombie ngelawak – sudah pernah penonton saksikan di sejumlah film zombie yang beredar setidaknya dalam satu dekade terakhir. Akan tetapi, yang lantas menjadikannya istimewa adalah bagaimana upaya Levine mengemas ulang segala bentuk keklisean di sini sehingga menjadi sesuatu yang segar dan menyenangkan. Skrip yang disulamnya sendiri mengikuti pola yang dibentuk oleh Marion ditaburinya dengan dialog yang bernas nan menggelitik. Gaya bertutur diwujudkannya selayaknya film-film milik John Hughes, lantas disisipi dengan koleksi tembang-tembang pilihan yang sungguh mengesankan, dan kemudian dihantarkan dengan memanfaatkan performa dari para pemain berbakat yang mampu menginterpretasi peran mereka dengan tepat. Kecengengan dan menye-menye – yang biasanya menjadi bagian tak terpisahkan dari romantisme terlarang – dihapuskan dan diganti dengan ketegaran serta keoptimisan. Levine pun sanggup menjadikan Warm Bodies sebagai candu sehingga menyaksikannya hanya sekali tidak akan terasa cukup.

Exceeds Expectations


Senin, 11 Maret 2013

REVIEW: "MAMA"



"Victoria, who is Mama? Can you show her to me?" - Dr. Dreyfuss

Apakah Anda siap untuk menyambut kehadiran tokoh anyar dalam film horor yang akan membuat Anda terperanjat sekaligus segera menjadi klasik dalam beberapa tahun mendatang? Jika ya, mari kita sambut... Mama. Setelah beberapa tahun terakhir terlalu banyak darah dan pembantaian dalam film horor dari Hollywood, maka berkat Guillermo del Toro yang menuntun bakat baru, sebuah horor tradisional siap untuk dihidangkan kepada Anda. Berawal dari film seram pendek langganan puja-puji berdurasi 3 menit bertajuk Mama, Andres Muschietti menarik perhatian para pemerhati film dunia. Tanpa ragu, setelah dibuat terkesima, del Toro lantas merancang proyek film panjang untuk Mama dengan sang pencetus ide asli tetap berada di belakang kemudi. Setelah pengembangan demi pengembangan, Mama pun siap untuk kembali menakut-nakuti penonton yang sekali ini berpindah ke layar perak. Dengan jalinan kisah yang lebih panjang, lebih rumit, dan lebih besar, akankah versi layar lebar dari Mama tetap sanggup hadir semencekam atau malah justru jauh lebih mencekam ketimbang versi film pendeknya? Mari kita kupas. 

Mimpi buruk bermula di tahun 2008 kala terjadi krisis ekonomi yang menyebabkan para pelaku bisnis terpaksa tiarap. Salah satu korban, Jeffrey (Nikolaj Coster-Waldau), tidak sanggup menghadapi tekanan yang menggempur hingga memutuskan untuk melenyapkan nyawa rekan bisnisnya beserta istrinya. Usai menjadi algojo, Jeffrey kabur bersama kedua putrinya, Victoria dan Lily. Perjalanan tidak berlangsung aman dan nyaman karena dalam posisi melaju kencang, Jeffrey tak dapat mengendalikan mobil yang kemudian berakhir di jurang. Berhasil selamat, ketiga tokoh ini lantas mengarungi belantara dan menemukan sebuah pondok bernama Helvetia. Jeffrey berencana untuk mengeksekusi kedua putrinya di tempat ini. Belum sempat rencana terwujud, sesosok makhluk misterius tiba-tiba hadir, menyelamatkan para gadis, dan menghabisi nyawa sang ayah. Apakah segalanya berakhir? Tentu saja belum, ini masih sebuah prolog. Penonton lantas digiring ke 5 tahun berikutnya dengan memperkenalkan pasangan Lucas (Nikolaj Coster-Waldau) dan Annabel (Jessica Chastain) yang tak kenal lelah mencari keberadaan Victoria (Megan Charpentier) dan Lily (Isabelle Nelisse) yang raib seolah ditelan bumi. 

Setelah proses pencarian yang berlangsung menahun, Victoria dan Lily berhasil ditemukan. Jangan harap melihat dua bocah yang bercucuran air mata penuh kebahagiaan melihat hidupnya terselamatkan, Victoria dan Lily justru menunjukkan tingkah laku yang jauh di bawah batas kewajaran sebagai efek dari mencoba bertahan hidup di alam liar selama lima tahun lamanya. Lucas dan Annabel, yang turut mendapat bantuan dari Dr. Dreyfuss (Daniel Kash), pontang panting mengurus mereka. Seiring berjalannya waktu, dan dengan semakin berkembangnya hubungan para gadis dengan Annabel, berbagai peristiwa ganjil mulai menampakkan muka. Sepertinya ada seseorang (atau malah justru sesuatu?) yang sepertinya tidak rela melihat Victoria dan Lily ‘berpindah ke lain hati’. Dengan adanya bayangan, atau suara-suara pendiri bulu kuduk, penonton dengan segera menyadari, mereka telah memasuki arena bermain sesungguhnya setelah sebelumnya diperkenalkan terlebih dahulu kepada si tokoh utama melalui adegan pembuka yang mendebarkan. 

Paruh awal film adalah bagian terbaik dari film yang mencoba untuk menapaki ranah horor tulen ini. Ketegangan dibangun melalui suasana sunyi senyap yang membuat penonton menduga-duga apa yang akan mendadak nongol di hadapan mereka. Persiapan dalam menyambut kemunculan mendadak meliputi kedua tangan menutupi wajah atau jari-jari menyumbat lubang telinga. Harus diakui, Andres Muschietti tergolong berhasil menghadirkan fase was-was dalam diri penonton. Wujud ‘Mama’ yang masih serba misterius turut menjadi salah satu faktor ketidaknyamanan yang hadir menyeruak, dan masih ditambah pula dengan gelaran scoring yang cukup berhasil dalam membuat penonton terlonjak dari kursi bioskop. Lalu, kita mengikuti investigasi yang dilakukan oleh Dr. Dreyfuss demi membongkar identitas yang sesungguhnya dari sosok-misterius-yang-kerap-dipanggil Mama oleh para gadis. Ini menyenangkan, serta tentu saja menegangkan. Ketika identitas Mama – yang dalam versi film diwujudkan oleh seorang aktor bernama Javier Botet dan digabung dengan CGI – terungkap, sayangnya secara perlahan tapi pasti, ketegangan mulai mengendur. 

Tidak ada masalah bagi saya ketika Andres Muschietti membelokkan film ke drama keluarga yang mengharu biru atau horor berbalut fantasi saat memasuki menit-menit terakhir. Lumayan berhasil dihantarkan hingga emosi penonton turut dibangkitkan. Yang membuat ‘mood’ saya mendadak rubuh adalah ketika sosok Mama tidak lagi demam panggung dan mulai banci tampil. Ini adalah kesalahan utama – yang entah mengapa selalu diulang-ulang dalam film horor nasional, meh – dalam sebuah film horor. Ketika sosok yang sejatinya menyeramkan serta seharusnya misterius itu menjadi lebih sering menampakkan diri, maka pada saat itulah film seharusnya diakhiri. Ini seharusnya menjadi sebuah klimaks. Keputusan untuk terus menerus menggedor jantung penonton melalui sosok Mama yang rasa-rasanya muncul setiap 5 menit sekali dengan taburan musik yang mengagetkan pada akhirnya malah menjadi bumerang terhadap film ini sendiri. Rasa takut yang telah terbangun, mendadak roboh seketika. Sungguh sangat disayangkan. Beruntung, Mama masih memiliki sebuah adegan menakutkan di paruh akhir – meski tidak lagi mengejutkan jika telah menyimak versi film pendeknya – dan para pemain yang berakting dengan chemistry yang terjalin meyakinkan hingga Mama tidak benar-benar terjun bebas dari tebing. 

Pada akhirnya, Mama memang bukan sebuah gelaran berisi teror dan pameran adegan-adegan seram yang istimewa, namun secara keseluruhan tetap mampu mengundang rasa takut – serta sedikit rasa haru – penonton. Ini akan menjadi tontonan yang cukup menyenangkan bagi mereka yang gemar ditakut-takuti, atau penonton yang mudah dikagetkan hanya dengan sedikit dentuman saja. Namun bagi para penggila film horor yang mengharapkan adanya kejutan-kejutan serta teror yang menghantui, Mama hanya terlihat sedikit lebih baik ketimbang sejumlah film seram yang muncul akhir-akhir ini. Memulai dengan langkah yang sangat meyakinkan, sayangnya Mama menjadi kian lemah dan terseok-seok kala mencoba menggapai garis akhir. Ketakutan yang telah terbangun dengan baik roboh seketika saat sosok Mama mulai mencintai kamera. Mama lupa tujuannya hadir di film ini adalah untuk menakut-nakuti penonton, bukan untuk berpose dengan gaya yang aneh.

Acceptable

Minggu, 10 Maret 2013

REVIEW: "The Woman In Black"



"Don't go chasing shadows, Arthur." - Daily

The Woman in Black memiliki nyaris semua formula yang dibutuhkan untuk menciptakan sebuah film horor yang menyeramkan; desa terpencil, penduduk yang bertingkah laku aneh, hantu anak kecil, matahari yang malu-malu menampakan wajahnya, dan tentu saja sebuah mansion tua yang terlantar. Apabila semua hal ini berhasil dipenuhi, maka James Watkins tidak perlu bersusah payah lagi membuat penonton merasa tidak aman di dalam bioskop. Dengan naskah yang digarap cermat oleh Jane Goldman, The Woman in Black cukup berhasil membuat bulu kuduk berdiri selama nyaris 85 menit. Di kala genre horor disesaki dengan tema kesurupan yang dikemas dalam bentuk found footage, Watkins justru kembali ke cara yang klasik. Hantu-hantu gigih yang tidak kenal lelah dalam menghantui menjadi akar permasalahan utama. Tenang saja, The Woman in Black bukanlah sebuah studi karakter, melainkan film horor murni dengan alur yang tenang namun secara efektif sanggup menebar kengerian tanpa terlalu menonjolkan si hantu.

Setelah menyelesaikan misinya dalam mengalahkan Pangeran Kegelapan, Daniel Radcliffe rupanya tidak melanjutkan mimpinya untuk menjadi Auror di Kementrian Sihir, melainkan memilih untuk bekeluarga dan bekerja sebagai pengacara. Radcliffe adalah Arthur Kipps, seorang pengacara di era Victoria yang mendadak menjadi single parent setelah istrinya meninggal tatkala melahirkan anak pertama mereka. Empat tahun berselang, Kipps terbentur dengan masalah finansial. Firma tempatnya bekerja tidak membuat segalanya menjadi lebih baik. Kipps dikirim ke sebuah desa di utara, Crythin Gifford, guna menyelesaikan urusan kliennya yang telah tiada, Alice Drablow, yang memiliki sebuah rumah mewah bernama Eel Marsh House. Crythin Gifford digambarkan sebagai sebuah desa yang sangat bertolak belakang dengan Stepford. Tidak ada penduduk desa yang memberikan sambutan hangat, bahkan palsu sekalipun, kepada Kipps, kecuali Sam Daily (Ciaran Hinds) yang istrinya memiliki gangguan kejiwaan. Pekerjaan Kipps dipersulit. Beberapa kali mereka memintanya untuk segera meninggalkan desa. Namun Kipps tetap keukeuh untuk tinggal selama pekerjaannya belum tuntas.

Keputusan yang tentunya harus dibayar mahal oleh Kipps. Dia terseret ke dalam serentetan kejadian paranormal yang menimpa desa tersebut. Kejadian yang tidak hanya mengundang rasa ingin tahu Kipps, tetapi juga penonton. Apa yang sebenarnyaterjadi di desa tersebut? Bersamaan dengan munculnya rasa penasaran yang membuncah, perasaan tidak nyaman pun mulai menggelayuti. Intensitas kemunculan si hantu meningkat terhitung semenjak Kipps menginjakkan kaki di pulau terpencil milik Drablow. Watkins tetap berusaha menjaga agar si hantu tidak kelewat narsis. Akibatnya, adegan-adegan sunyi minim iringan musik yang melibatkan lorong-lorong panjang yang gelap atau taman yang beralih bentuk menjadi hutan membuat penonton menebak-nebak buah manggis dari arah mana kejutan berasal. Tebakan tak selalu benar, tentunya. Dan saya pun dibiarkan tersiksa. Efek yang dihasilkan tak sedahsyatInsidious, tapi tetap saja The Woman in Black membuat bulu kuduk berdiri dan jantung berdegup kencang.

Keberhasilan Watkins ini tentu tak lepas dari kepiawaian Tim-Maurice Jones yang sanggup mengabadikan momen-momen menyeramkan serta lanskap indah yang menyejukkan mata. Salut pula untuk tim production design. Yang sedikit mengecewakan, maka itu adalah Radcliffe dan ending-nya. Radcliffe memang bermain bagus, ada kemajuan ketimbang apa yang dia tampilkan di seri Harry Potter, namun tampangnya yang masih seperti anak sekolahan membuatnya terasa kurang pas ketika membawakan peran sebagai seorang single father. Bayang-bayang Harry Potter pun belum sepenuhnya lepas dari dirinya. Sementara ending-nya kurang memuaskan, tipikal film horor kebanyakan. Bisa jadi kekecewaan ini disebabkan oleh harapan akan durasi yang lebih panjang dengan teror yang semakin menggila. Rasanya seperti saya sedang berada di karaoke booth, menghayati lagu yang tengah mencapai klimaksnya, dan mendadak listrik mati. Ouch. Sekalipun cara penyelesaiannya membuat film ini terasa kurang greget, nuansa horor klasik yang mencekam tetap berhasil dihadirkan. Bukan yang terbaik di genrenya, tapi jelas salah satu yang terunggul dalam beberapa tahun terakhir.

Acceptable