Tampilkan postingan dengan label dr watson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dr watson. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Januari 2013

REVIEW: "Sherlock Holmes: A Game OF Shadow"


"Slow and steady wins the race." - Sherlock Holmes

Guy Ritchie mengakhiri Sherlock Holmes dengan sebuah adegan yang membuat para penggemar tidak sabar untuk menantikan kelanjutannya, Irene Adler (Rachel McAdams) rupanya bekerja untuk Professor Moriarty. Tak ada penampakan wajah dari sang professor, hanya suaranya saja. Berbagai spekulasi mengenai siapa yang akan memerankan musuh abadi Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.) pun bermunculan. Yang paling santer terdengar adalah Brad Pitt. 
 
Pasangan dari Angelina Jolie ini merupakan salah satu yang paling vokal mengenai ketertarikannya untuk terlibat dalam proyek sekuel dari Sherlock Holmes, apalagi bintang Troy ini pernah bekerjasama dengan Ritchie di Snatch. Sang sutradara enggan untuk memberikan banyak komentar mengenai kepastian apakah Pitt adalah Professor Moriarty. Dan, ketika akhirnya Jared Harris terpilih, banyak pihak yang merasa kecewa karena kadung mengharapkan Brad Pitt. Namun saya pribadi tidak mempermasalahkan hal ini, selama sang aktor bisa bermain bagus, kenapa tidak? Harris pun pada akhirnya mampu membuktikan bahwa dia layak memerankan Professor Moriarty dalam Sherlock Holmes: A Game of Shadows. Jika pada akhirnya terasa kurang greget, maka naskah buatan Kieran Mulroney dan Michele Mulroney dianggap yang paling bertanggung jawab.

Bagi yang mengharapkan Sherlock Holmes: A Game of Shadows sebagai sebuah film yang sarat dengan aksi, Guy Ritchie akan memuaskan Anda dengan berbagai adegan aksi yang ditampilkan dengan elegan, bergaya, dan tentunya Ritchie banget. Tapi akan sangat mengecewakan bagi siapapun yang berharap jilid kedua ini akan menjadi lebih kelam, lebih banyak misteri, dan lebih mencekam, dengan kehadiran Professor Moriarty (Jared Harris). A Game of Shadows sebenarnya memiliki premis yang menarik lantaran jalan ceritanya terinspirasi dari cerpen karya Arthur Conan Doyle yang berjudul The Final Problem, akan tetapi kenyataan yang terjadi ternyata tak berbanding lurus, setidaknya bagi saya. Misteri yang ditawarkan kurang menarik karena sejak awal penonton telah mengetahui siapa yang menjadi dalang di balik semua kejadian. Dengan dibongkarnya identitas pelaku sejak dini, maka tumpuan satu-satunya untuk menjadikan film ini menarik adalah cat-and-mouse chase antara Holmes dan Moriarty yang sayangnya tidak diberi porsi yang cukup oleh tim penulis skenario dan Ritchie. Mereka justru lebih asyik menyoroti fluktuasi hubungan antara Holmes dengan Dr. John Watson (Jude Law) yang kian lama menjadi kian mirip pasangan ketimbang sahabat. Mencoba untuk menyaingi pasangan Brokeback, eh?


Sherlock Holmes khawatir, pernikahan Watson dengan Mary Morstan (Kelly Reilly) akan membuat sang BFF (Best Friend Forever-Red) meninggalkannya sendiri dalam memecahkan berbagai kasus. Dan ya, Watson memang memiliki rencana seperti itu. Akan tetapi Watson mengurungkan niatnya setelah dia dan sang mempelai perempuan turut menjadi target pembunuhan dari Professor Moriarty. Mau tak mau, mereka berdua pun ikut serta membantu Holmes untuk menggagalkan rencana sang professor yang berniat menciptakan krisis di industri senjata Eropa yang memungkinkan terciptanya perang dalam skala besar. Dalam kasus teranyarnya ini, duo paling keren dalam sejarah karya sastra detektif ini tidak berjuang sendirian. Mereka mendapatkan bantuan penuh dari kakak Sherlock, Mycroft Holmes (Stephen Fry), serta Simza (Noomi Rapace), wanita gypsy yang saudaranya disinyalir memiliki hubungan dengan komplotan yang dibentuk oleh Moriarty. Sepanjang 128 menit, penonton diajak untuk mengikuti petualangan konyol dari Holmes, Watson, dan Simza. Saya sebut konyol lantaran Holmes versi Ritchie ini digambarkan seperti telah hilang kewarasannya, menjadi kian eksentrik, dan berlebihan. A Game of Shadows pun menjelma menjadi sebuah perjalanan panjang yang melelahkan.

Pun begitu, A Game of Shadows masih memiliki sejumlah amunisi yang membuat saya rela untuk tetap duduk manis hingga film berakhir. Slow motion sequences yang menjadi ciri khas dari film pertama, kembali dihadirkan dengan frekuensi kemunculan yang lebih banyak. Beberapa terkesan sebagai sempilan semata, tapi adegan kejar-kejaran di hutan Jerman berhasil divisualisasikan dengan cantik. Gabungan antara efek khusus, sinematografi serta editing yang cantik, membuat adegan ini sulit untuk dilupakan begitu saja. Di luar sektor teknis yang memang menjadi andalan dwilogi ini, departemen akting pun turut berjasa dalam menyelamatkan A Game of Shadows. Robert Downey Jr. dan Jude Law yang telah melebur dengan karakter masing-masing mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam urusan membangun chemistry, sementara Stephen Fry nampak santai membawakan perannya. Jared Harris tak mengecewakan, hanya saja tim penulis naskah tidak memberinya ruang lebih untuk mengeksplor karakter salah satu penjahat paling berbahaya ini. Rachel McAdams yang menggoda hanya tampil selewat saja dan selebihnya diserahkan kepada Noomi Rapace yang kehadirannya tak lebih dari sekadar tempelan semata. Nampaknya, usaha untuk tampil bermewah-mewahan dengan memperbanyak sajian laga berbuntut pada pengorbanan terhadap sektor naskah. Misteri tak menarik, karakterisasi beberapa karakter terasa dangkal, dan jalan cerita pun monoton.
Acceptable

Rabu, 26 Desember 2012

Sherlock Holmes “A Study In Scarlet” Bab 1 “Mr.Sherlock Holmes” Seri 3


 SEBELUMNYA DI SHERLOCK HOLMES “A STUDY IN SCARLET”
=Selama beberapa waktu aku tinggal di sebuah hotel di Strand, menjalani kehidupan yang tidak nyaman dan tidak berarti, menghabiskan uang lebih boros dari yang seharusnya. Kondisi keuanganku jadi morat-marit, sehingga kemudian aku menyadari bahwa aku hanya punya dua pilihan: meniggalkan ibukota dan berkarat disuatu tempat di pedalaman, atau mengubah cara hidupku secara total.=

=Tepat pada hari aku mengambil keputusan itulah aku bertemu dengan Stamford, mantri yang bertugas memerban luka di bawah pengawasanku di rumah sakit Barts.=


=“malang sekali!” komentar Stamford setelah mendengar musibah yang menimpaku.
“sekarang apa rencanamu?”
          “mencari tempat tinggal,” jawabku, “mencoba memecahkan masalah, apakah mungkin mendapatkan kamar dengan harga yang murah dan nyaman”=

=“siapa orang pertama?” tanyaku
          “rekan kerjaku di laboraturium kimia di rumah sakit. Tadi pagi dia mengeluh karena dia tidak dapat menemukan orang yang dapat berbagi dengannya. Dia menemukan apartemen yang nyaman, tapi biaya sewanya terlalu tinggi untuk ditanggung sendiri”=

Sherlock Holmes “A Study In Scarlet”
Bab 1
“Mr.Sherlock Holmes”
Seri 3

Stamford memandangku dengan ekspresi agak aneh dari balik gelas anggurnya. “Kau belum mengenal Sherlock Holmes,” katanya “mungkin kau tidak ingin ditemani dirinya setiap saat.”
          “kenapa, ada apa denganya?”
          “oh, aku tidak mengatakan kalau ada apa-apa denganya. Orangnya cukup baik, hanya saja dia memiliki gagasan yang aneh-aneh. Dia menaruh perhatian besar terhadap beberapa cabang sains”
          “Mahasiswa kedokteran, mungkin?” kataku.
          “tidak---aku tidak tahu apa tujuan belajarnya. Dia mendalami anatomi dan sangat ahli di bidang kimia, tapi sepanjang sepengetahuanku, dia tidak pernah mengikuti kegiatan medis secara sistimatik. Cara belajarnya aneh dan tidak berketentuan, namun dia berhasil mengumpulkan banyak pengetahuan yang membuat banyak professor terpana”
          “apa kau tak pernah bertanya, untuk apa dia mempelajari semua itu?” tanyaku
          “tidak, sebab dia orang yang agak tertutup, meskipun dia juga bisa bicara panjang lebar kalau dia mau”
          “aku ingin bertemu denganya,” kataku “kalau aku harus berbagi tempat tinggal dengan seseorang, aku lebih suka memilih orang yang senang belajar dan memiliki kebiasaan-kebiasaan yang tenang. Aku belum cukup kuat untuk menghadapi keributan atau suara-suara keras. Selama di Afganisthan kedua hal itu sudah banyak menderaku, sehingga aku tak mau menjumpainya lagi sepanjang sisa hidupku. Bagaimana aku bisa bertemu dengan temanmu ini?”
          “dia jelas ada di laboraturium,” sahut Stamford.
“orang itu memang aneh. Adakalanya dia tidak muncul di laboraturium selama berminggu-minggu, tapi disaat yang lain dia bisa mendekam disana dari pagi sampai malam. Kalau kau suka kita bisa kesana bersama-sama setelah makan siang”
          “ya, terima kasih,” jawabku, dan percakapanpun beralih ke hal-hal lain.
          Saat menuju rumah sakit setelah meninggalkan Holborn, Stamford kembali menyinggung masalah Sherlock Holmes.
          “jangan salahkan aku jika kau tidak cocok dengan Sherlock Holmes,” Stamford memperingatkan. “aku sendiri tak begitu dekat dengannya, jadi kelak jangan menuntut pertanggung jawabanku.” Bersambung…

Sabtu, 21 Juli 2012

Sinopsis Sherlock Holmes 1,2,3, dan 4

Sinopsis Sherlock Holmes 1 "A Study In Scarlet"

Diceritakan dari sudut pandang Watson, seorang pensiunan dokter Angkatan Darat Inggris, yang pada tugas terakhirnya mengalami luka tembak dan terserang penyakit tifus, sehingga dibebastugaskan dari resimennya dan dipulangkan ke Inggris karena kondisinya yang lemah. Di Inggris, Watson tinggal sendiri karena dia tidak punya kerabat di sana. Penghasilan yang kecil mengharuskan dia untuk mencari tempat tinggal yang murah. Keinginan ini dia utarakan kepada temannya yang dia temui secara tidak sengaja di bar. Dari temannya itulah Watson mengenal Sherlock Holmes, seorang pria yang sedang mencari rekan untuk berbagi tempat tinggal dan biaya sewa.


Setelah pertemuan pertama yang “mengherankan” di laboratorium, Watson yang telah diperingatkan sebelumnya oleh temannya akan perangai aneh Holmes, memutuskan untuk menerima tawaran berbagi tempat tinggal dan biaya sewa apartemen dengan Holmes. Apartemen tersebut terletak di Baker Street No. 221B. Pada saat itu Watson belum mengetahui pekerjaan Holmes.


Setelah tinggal bersama pun perlu waktu berminggu-minggu agar Watson dapat mengetahui apa sebenarnya yang dilakukan Holmes. Sebenarnya bisa saja dia menanyakan langsung kepada Holmes, tetapi sopan santun menghalanginya untuk bertanya. Holmes tidak pernah membicarakan masalah pekerjaannya karena itu dia pikir Holmes tidak ingin pekerjaan nya diketahui.
Menarik membaca bagaimana Watson menerka-nerka apa pekerjaan yang dilakukan oleh rekan serumahnya itu. Tidak bekerjanya Watson dan kesehatannya yang buruk membuatnya harus sering berada di rumah. Bosan karena tidak melakukan apa-apa, sehingga ketika ada misteri kecil tentang pekerjaan holmes di hadapannya, langsung disambutnya dengan semangat. Bak detektif dia mengumpulkan apa saja yang dia ketahui tentang Holmes, dan menulisnya dalam catatan kecil berjudul “Sherlock Holmes – kelebihan dan kekurangannya”.

Walaupun begitu, itu pun belum cukup untuk menguak misteri pekerjaan Holmes, sampai pada suatu hari Holmes sendiri yang membuka tabir misteri tersebut. Dan dimulailah keterlibatan Watson dalam kasus yang dinamai sendiri oleh Holmes sebagai “Penelusuran Benang Merah” (A study in Scarlet)

“Memang ada benang merah pembunuhan dalam kumparan kehidupan yang tanpa warna. Tugas kitalah untuk menelusurinya, menguraikannya, dan meluruskannya”. (Sherlock Holmes)

Sinopsis Sherlock Holmes 2 "Sign Of Four"

Mary Morstan mendatangai Sherlock Holmes memintanya memecahkan sebuah misteri. Sepuluh tahun yang lalu, ayah Mary, Kapten Arthur Morstan kembali ke London dengan mengambil cuti dari resimennya di India. Katanya ia dan temannya Tahddeus Sholto, mendapatkan harta karun yang sangat besar jumlahnya. Tapi ketika Mary tiba di hotel tempat ayahnya tinggal, sang ayah sudah lenyap tanpa jejak.
Sherlock Holmes menyambut tantangan ini dengan antusias. Dan kali inipun Dr. Watson menyertainya, terutama karena ia sangat tertarik pada Mary Morstan yang dimatanya begitu mempesona

Sinopsis Sherlock Holmes 3 "The Hound Of Bakersville"

“… Ini bisnis kotor, Watson, bisnis kotor yang berbahaya, dan semakin banyak yang aku ketahui, semakin aku tidak menyukainya,” ujar Holmes menanggapi kematian Sir Charles Baskerville. Bangsawan tua itu tewas ketakutan akibat serangan mahkluk buas mengerikan yang selama ini hanya hidup dalam legenda. Duet Sherlock Holmes dan Dr. Watson nyaris menemukan jalan buntu sampai sang pewaris, Sir Henry Baskerville, muncul. Tampaknya Sir Henry bukan cuma mewarisi rumah besar dan kekayaan melimpah milik keluarganya, melainkan juga takdir yang mengerikan. Karena bersama dengan kedatangannya, mahkluk setan itu kembali menghantui, mengintai di rawa-rawa berkabut, menunggu kelengahan calon korbannya..

Sinopsis Sherlock Holmes 4 "The Valley Of Fear"

Suatu pagi Sherlock Holmes menerima pesan dalam bentuk kode yang menginformasikan ancaman pembunuhan terhadap John Douglas di Manor House. Sayangnya Sherlock Holmes terlambat. Pada saat ia berhasil memecahkan kode itu, sudah terjadi pembunuhan terhadap John Douglas.

Sherlock Holmes dan Watson kemudian pergi ke lokasi kejadian di Sussex untuk menyelidiki pembunuhan tersebut. Penyelidikan mereka berhasil menyingkap rahasia besar di balik pembunuhan itu, dengan motif yang bermula di Amerika. Meskipun tidak punya cara untuk membuktikannya, Sherlock yakin Profesor Moriarty terlibat dalam hal ini, karena cuma Moriaty yang tertantang untuk menghabisi seseorang yang berkali-kali lolos dari maut

ikuti terus ceritanya!